Warisan Indonesia: Jejak Suci Ritual Seka Banda, Penjaga Harta Karun Gunung Padang (Bagian II)

RITUS SEKA BANDA

SANG PENJAGA HARTA
GUNUNG PADANG CIANJUR
Laporan khusus oleh: Tim Redaksi

Sebelumnya: Kelahiran Ritual di Tengah Perusakan Harta Karun Gunung Padang (Bagian I)

BUDAYA INSPIRA,- Matahari sudah kembali ke peraduannya. Giliran malam mengawasi setiap insan di area Gunung Padang yang terletak di Desa Karyamukti, Kecamatan Cempaka, Kabupaten Cianjur, Jawa Barat.

Dinginnya malam menusuk hingga tulang bak jarum suntik yang masuk ke pori-pori kulit. Ritual Khusus (Ritus) Seka Banda akan segera dimulai. Hingar bingar di siang hari mendadak hilang, seolah ditelan pekatnya gelap. Aroma dupa mulai tercium. Di sudut pintu masuk, beberapa orang yang akan melaksanakan ritual khusus (Ritus) berkumpul sambil merapihkan baju mereka.

Sesajen sudah siap untuk dibawa sebagai syarat Ritus yang akan dilaksanakan malam ini. Hanya obor yang membantu penerangan jalan; cahaya bulan purnama mengganti peran matahari membantu memapah, di balik tirai yang tertelan gelap berkabut.

Pelaku ritual memasuki gerbang pertama diikuti iringan warga setempat yang ikut dalam Ritus kali ini. Mereka membawa benda-benda pusaka warisan orang tua mereka sejak lampau.

“Setiap orang yang akan naik ke Gunung Padang saat melakukan Ritus Seka Band, wajib untuk mensucikan diri sesuai dengan agamanya masing-masing, kalau dalam Islam yaitu berwudhu,” kata Ki Asep Sudrajata, sesepuh di situs Gunung Padang.

Didampingi Abah Tatang Setiadi dan beberapa orang lainnya, Ki Asep mulai mengisi kendi dari mata air yang ada di Gunung Padang. Kemudian beberapa warga silih berganti untuk mensucikan diri mereka.

Langkah kaki pun berjalan menaiki anak tangga pertama. Diketahui, jumlah anak tangga yang menghantar hingga ke puncak ada sebanyak 700 lebih. Jalur pendakian Gunung Padang terbagi dua. Tangga sebelah kiri dengan struktur jalan yang sedikit curam memiliki 385 anak tangga.

Sementara itu, terdengar ingar-bingar kalimat ‘Bismillah’ dari orang-orang di belakang Abah Tatang dan Ki Asep serta beberapa orang yang mengurus lokasi ini.

Bau dupa mulai menyeruak, menyengat, tercium hidung dengan semilir angin malam yang cukup membuat bulu kuduk berdiri.

Selama menyusuri tangga, suasana begitu sunyi, hanya ada suara jangkrik, burung hantu, dan suara kodok menghibur selama perjalanan.

Warga berjalan sambil bersembunyi di bawah kain putih yang membentang sepanjang dua meter. Lama berjalan sekitar 20 menit, cahaya rembulan menyambut kedatangan mereka. Hamparan batu peninggalan leluhur zaman megalitikum dan rumput hijau tampak begitu jelas.

Baca juga: Tutunggulan, Sinyal Panggilan Kampung Ciseureuh Sejak Puluhan Tahun Lalu

Punden berundak adalah ciri khas dari zaman batu besar, ditambah dolmen dan menhir yang tersusun apik di setiap teras situs purba ini.

Perlu diketahui Gunung Padang memiliki lima teras yang memiliki fungsinya masing-masing. Rombongan beranjak menuju ke Teras 4, dan Ritus Seka Banda pun dimulai. Mulut Ki Asep dan pendampingnya komat-kamit entah apa yang dibacakan.

Tik… tok… tik… tok… dua jam waktu berlalu, Ki Asep mulai membasuh batu menhir yang dikeramatkan menggunakan air. Diikuti dengan beberapa benda pusaka lainnya seperti kujang, keris dan beberapa benda lainnya milik warga sekitar.

“Ritus ini untuk menjaga segala sesuatu yang ada di Gunung Padang, jangan sampai dirusak oleh orang tak bertanggung jawab. Dan jangan pernah mengambil batu yang ada di sekitar lokasi ini,” kata Ki Asep mengingatkan.

Malam bercumbu dengan dingin dan wangi dupa masih bertahan menambah intimnya suasana. Bulan tampak bergeser dan posisinya tepat berada di atas kepala.

Di samping kanan, tampak Abah Tatang sedang fokus mengangkat tangan ke arah langit, seolah menahan air hujan untuk sementara waktu tidak turun membasahi lokasi.

Cahaya purnama masih setia menemani mereka di bawah naungan awan mendung. Suara pelan Ki Asep memecah keheningan malam, ia menjelaskan pantangan saat menggelar Ritus Seka Banda.

“Pantangan untuk melakukan Ritus ini, kita jangan bicara sompral, pokoknya jangan sembarangan. Sopan santun harus dijaga,” kata dia.

Abah Tatang bersandar di salah satu batu, memanggil Adhin Abdul Hakim Top sebagai pembawa acara Warisan Indonesia. Ia ikut dalam kegiatan ini untuk mengetahui tentang Seka Banda.

Tangan Abah memegang pundak pria berjenggot lebat, mengingatkan hakikat manusia. Ia berpesan agar tetap menjaga hati dan mengingat kepada tuhan yang menciptakan langit dan bumi.

“Seka Banda ini mengajari terhadap nilai budaya itu sendiri. Jadi jangan salah, ini (lokasi situs) jangan dituhankan tapi rawatlah dengan baik pemberian Tuhan ini. Kita tetap menautkan hati kepada sang Pencipta. Ingat, kita diciptakan sebagai makhluk sosial, maka bersilahturahmilah,” kata Abah, yang raut wajahnya memang sedikit berbeda jika dibandingkan pertemuan di siang hari, seolah ada aura lain yang menyelimuti dirinya.

Tanpa terasa, waktu malam hampir mencapai puncaknya, Ritus Seka Banda ditutup dengan memanjatkan doa kepada sang pencipta.

Balai Pelestarian Nilai Budaya (BPNB) Provinsi Jawa Barat dengan wilayah kerjanya meliput Provinsi Jawa Barat, DKI Jakarta, Banten dan Lampung memiliki tugas pokok dan fungsi untuk melindungi, mengembangkan, dan menjaga kelestarian budaya.

Baca juga: BPNB Jabar Lanjutkan Susuri Jejak Nilai Warisan Indonesia di 3 Kabupaten

Tak hanya itu, BPNB pun memiliki tekad untuk mengembangkan potensi budaya dan seni di desa-desa pemajuan kebudayaan yang berada di bawah naungan wilayah kerja Jabar. (MSN)

 

Penulis: Masnurdiansyah
Editor: Agia Aprilian

Welcome! Login in to your account

Remember meLost your password?

Lost Password