Warisan Indonesia: Kelahiran Ritual di Tengah Perusakan Harta Karun Gunung Padang (Bagian I)

RITUS SEKA BANDA

RITUAL DI TENGAH PERUSAKAN
HARTA KARUN GUNUNG PADANG
Laporan khusus oleh: Tim Redaksi

BUDAYA INSPIRA,- Riuh hujan turun dari langit. Seketika, cuaca berubah lebih sejuk dan menambah hawa dingin seolah mencumbu diri. Suara obrolan yang dikecilkan membuat suasana terasa lebih intim.

Jarum jam menunjukan pukul 12.30 WIB. Tampak beberapa orang kuncen Gunung Padang yang terletak di Desa Karyamukti, Kecamatan Cempaka, Kabupaten Cianjur, Jawa Barat, sedang bersiap mengemas kebutuhan yang diperlukan untuk ritual khusus (Ritus) Seka Banda.

Ritus ini kerap dilaksanakan saat bulan Maulud.

“Seka Banda adalah ritual mencuci benda pusaka yang biasa dilaksanakan setiap bulan Maulud. Lokasinya di puncak Gunung Padang,” kata kuncen Gunung Padang, Aki Asep Sudrajat.

Tak lama tetesan hujan dari langit mulai reda. Aktivitas masyarakat kembali berjalan seperti semula. Para wisatawan tampak hilir mudik masuk dan keluar gerbang pendakian.

Dalam setahun, Ritus Gunung Padang dilaksanakan sebanyak tiga kali, tepatnya pada bulan Maulud, Rajab, dan Suro.

Persiapan untuk melaksanakan Ritus pada malam hari sudah siap. Ki Asep kembali duduk dan mengambil tembakau yang kemudian ia linting. Tangan kanannya memegang korek untuk menyalakan batang rokok yang sudah siap di mulutnya.

Tanpa menunggu waktu lama, seorang tokoh masyarakat dan budayawan Kabupaten Cianjur, Abah Tatang Setiadi datang menyapa. Mereka duduk bercengkrama membahas mengenai ritus yang akan segera digelar.

Abah Tatang menjelaskan tujuan dari Ritus Seka Banda.

“Ritus ini dilakukan untuk menjaga situs peninggalan megalitikum yang ada di Gunung Padang, agar nilai kebudayaan yang tinggi di sini tidak dirusak,” kata Abah Tatang.

Abah bercerita, sebelum memasuki tahun 2000, batu yang ada di Gunung Padang menjadi korban eksploitasi dari tangan-tangan yang tidak bertanggung jawab. Warga sekitar geram dengan nafsu bisnis yang bisa merusak salah satu warisan Indonesia dari nenek moyang yang sudah ada sejak ribuan tahun lalu.

“Melihat kondisi batu di tambang yang sudah tidak dipedulikan, saya dan kawan-kawan lantas berpikir ini tidak bisa dibiarkan. Keamanan saat itu ada, tapi tidak 24 jam berjaga. Lalu kami punya ide efektif untuk mengamankannya.

“Jadi para pelaku seni harus ke Gunung Padang dulu. Dan itu cukup ampuh, sedikit melindungi situs Gunung Padang yang ada sekarang,” kata Abah.

Baca juga: Senandung Dalem Pancaniti, Pelipur Lara yang Merindukan Kejayaan Padjajaran

Abah Tatang lalu memutar otak agar ritual yang dilakukan tidak jatuh pada jurang kemusrikan. Setelah melakukan diskusi dengan beberapa orang, maka lahirlah Ritus Seka Banda.

“Apa yang harus dibersihkan dalam Ritus ini? Hati kita, halaman rumah kita dan lingkungan kita. Kemudian apa yang diseka? Pertama pusaka yang mutlak dibuat manusia. Kedua, anugerah seperti panca indera. Lalu yang ketiga adalah Gunung Padangnya, karena itu merupakan karunia dari Tuhan,” kata Abah.

Dengan banyaknya perusakan, maka Ritus ini dilakukan agar benda sekecil apa pun yang ada di lingkungan Gunung Padang tidak dirusak dan disentuh tangan jahil.

Ketika melakukan ritus ini, air yang terletak di Gunung Padang harus diambil menggunakan tujuh kendi. Menurut Abah Tatang, kendi adalah unsur kehidupan manusia, sedangkan tanah dijabarkan sebagai awal lahir dan pulangnya manusia. Sementara air, adalah kehidupan makhluk hidup.

“Kita lahir dari tanah dan akan pulang ke tanah. Karena Abah yakin nanti Gunung Padang akan mengundang banyak orang hingga ada kehidupan di sekitarnya. Inilah harta karun sebenarnya, peninggalan budaya yang masih terjaga, dari yang awalnya tidak ada apa-apa jadi ada apa-apa,” kata dia.

Misi Abah Tatang melindungi situs megalitikum tersebut tak mudah. Perlu tenaga dan dukungan agar Gunung Padang tidak dirusak.

Ia pun mengaku sempat merancang sebuah setingan yang bisa membuat masyarakat sekitar jadi kapok untuk menambang batu di sekitar lokasi tersebut.

“Abah sempat tanya kepada teman, untuk membuat prasasti dengan aksara kuno. Lantas bagaimana? Kami pendam lagi, setelah itu besok lusanya kami bikin berita konferensi pers adanya penemuan. Begitu awalnya. Tapi teman Abah bilang sebaiknya jangan membodohi masyarakat, masih ada cara lainnya,” kata Abah.

Setelah mengurungkan niatnya, Abah kembali berpikir bersama seluruh tokoh masyarakat, hingga akhirnya disepakati situs Gunung Padang harus dilindungi dengan melakukan Ritus Seka Banda.

“Jadi waktu itu tahun 2003 kami lakukan festival budaya dimulai dari lokasi situs sejarah ini. Setelah itu kami adakan lagi Seka Banda khitanan massal, pengajian, dan kegiatan sosial lainnya. Itu berjalan sampai sekarang,” kata Abah, mengingat-ingat masa mudanya.

Situs ini pun menjadi perhatian Badan Pelestarian Nilai Budaya (BPNB) Jawa Barat. Kawasan Gunung Padang bukan hanya warisan Indonesia yang harus dijaga oleh anak cucu saat ini, tapi ada penghargaan tersendiri kepada nenek moyang dengan tidak merusak peninggalan yang memiliki nilai lebih tinggi dari sekadar materi.

Setelah obrolan panjang lebar, ritual khusus Seka Banda pun dimulai… (MSN)


Lanjutan: Kelahiran Ritual di Tengah Perusakan Harta Karun Gunung Padang (Bagian II)

Penulis: Masnurdiansyah
Editor: Agia Aprilian

Welcome! Login in to your account

Remember meLost your password?

Lost Password