Warisan Indonesia: Senandung Dalem Pancaniti, Pelipur Lara yang Merindukan Kejayaan Padjajaran

KESENIAN MAMAOS

SENANDUNG DALEM PANCANITI
PELIPUR LARA WARGA CIANJUR
Laporan khusus oleh: Tim Redaksi

BUDAYA INSPIRA,- Duduknya begitu anggun. Lengan kanan dan kiri di taruh di atas paha dengan jari-jarinya yang lentik. Balutan kabaya coak karembong, kain batik, bros, dan kerudung, mendukung wajahnya yang ayu dan pipi yang merah merona serta kulit berwarna kuning langsat. Suaranya begitu syahdu dan lembut, melantunkan tembang Sunda dengan sedikit sentilan senyum dari raut wajahnya.

Sang pria pun tampak gagah dengan pakaian Parangwadana. Dibalut iket landung, tuksedo, kemeja putih berdasi kupu-kupu, serta sinjang lamban-landung yang menambah kesan tampan dan elegan.

Mereka tampak saling menyahut menuntaskan lirik yang dinyanyikan.

Inilah Mamaos; satu dari tiga pilar budaya yang dikenal di Cianjur.

Kesenian Mamaos adalah seni suara Sunda yang diiringi oleh seperangkat instrumen musik yang terdiri atas Kacapi Indung, Kacapai Rincik, Suling dan Rebam.

Tembang ini terbagi dalam enam Wanda (karakter), yaitu Papantunan, Jejemplangan, Rarancagan, Dedegungan, Kakawen, dan Panambih. Musik pengiring di tengah-tengah suasana kebun teh yang luasnya berhektar-hektar, membuat emosi berdamai dengan jiwa.

Seolah tak mau kalah, siliran angin turut mendukung mendamaikan jiwa, menyumbang hembusan penghilang peluh yang keluar dari dahi.

Abah Tatang Setiadi, begitulah panggilannya. Memakai ikat kepala khas Sunda, pakaian putih sambil menggantung kaneron di pundaknya, ia sibuk mengarahkan anak didiknya yang sedang bernyanyi.

“Kesenian Mamaos lahir di Cianjur, kemudian berkembang dan menyebar ke seluruh daerah di Jawa Barat. Kesenian ini berawal dari papantunan yang sangat digemari oleh kalangan menak dan kerajaan pada zaman dulu,” kata Abah Tatang yang tengah duduk di bawah pohon rindang.

Baca juga: Teka-Teki Mbah Tisna dan Jurus Andalan Pendekar Satria Kencana

Dulu, lanjutnya, para abdi kerajaan begitu senang dengan kesenian pantun. Maka dibawalah ke dalam lingkungan kerajaan agar ruh pantun itu tetap terjaga dan tidak hilang termakan waktu.

“Maka dibuatlah para ahli yang ada di dalam pendopo. Sebuah jenis tembang papantunan yang seiring perkembangan zamannya menjadi kesenian Mamaos, yang berarti mamaca (membaca) atau bercerita dengan kalimat halus,” kata Abah Tatang.

Lirik yang terkandung dalam Mamaos dipenuhi dengan rasa syukur kepada sang Pencipta atas anugerah yang telah diberikan kepada manusia dan alam.

Abah bersikeras bahwa kesenian satu ini sangat penting untuk dijaga dan dilestarikan.

“Mamaos wajib dilestarikan di Cianjur. Karena bangsa yang besar harus menghargai jasa para pahlawan dan juga kebudayaannya. Pengaruh kesenian ini bisa melahirkan sebuah karakter manusia dengan segala kebaikan yang terkandung,” katanya.

Kesenian merupakan bingkai dari karakteristik masyarakat, baik secara kelompok maupun individu, dan Kabupaten Cianjur jadi salah satu wilayah agraris yang halus.

“Kesenian di Cianjur tidak ada yang kasar. Mulai dari Cianjuran hingga ayam pelung besar tidak pernah diadukan secara fisik, hanya suaranya saja. Itulah bentuk kehalusan dari Cianjur,” kata Abah Tatang, tersenyum.

Rindu Kejayaan Padjajaran

Posisi badan Abah menjadi tegak dengan posisi bersila. Ia kemudian menceritakan seni Mamaos sesuai literatur yang ia baca.

Dikisahkan, Bupati Cianjur ketika itu, RAA Kusumaningrat atau dikenal dengan sebutan Dalem Pancaniti, memprakarsai kesenian ini pada tahun 1834-1862. Di tahun itulah mulai terbentuk embrio Mamaos.

Abah memandang langit, menceritakan sebuah kisah dibalik lahirnya seni Mamaos, ketika terik matahari menyinari Paldua.

“Banyak kisah mengenai Kerajaan Padjajaran yang tercipta dalam lakon carita pantun,” katanya.

Abah memutar waktu ke masa RAA Kusuma. Saat itu dirinya memilih satu fragmen dari dasar kesenian ini tentang Mundinglaya Dikusuma yang naik ke langit untuk mengambil pusaka Layang Jamus Kalimusada, sebelum kemudian ia kembali ke Bumi.

Pancaniti menciptakan Wanda Papantunan dalam bayangan kerinduan terhadap megahnya Kerajaan Padjajaran di masa kejayaan.

“Ia sedih dan prihatin melihat situasi Cianjur yang ketika itu menjadi ibu kota Karesidenan dalam situasi kacau. Masyarakatnya dalam keadaan malas, acuh dan tak memiliki kemauan untuk bekerja dan belajar,” kata Abah Tatang.

Situasi tersebut tak ayal membuat hati RAA Kusumaningrat gundah gulana. Hatinya menarik dan mengajak masuk ke dalam ruangan yang disebut Pancaniti untuk menyendiri.

“Ia berintropeksi diri sambil membuat sebuah karya yang bisa menghiburnya di kala sedih. Saat itulah Cianjuran terlahir sebagai obat pelipur lara,” kata Abah.

Perlahan waktu berganti, keturunan RAA Kusuma memperkenalkan Mamaos kepada masyarakat luas tanpa ada pantangan apa pun. Ia pun berharap, kesenian ini bisa dinikmati oleh seluruh lapisan masyarakat.

Jika anak nakal maka disentil,
jika anak lupa maka dicolek untuk diingatkan,
jika anak memiliki keinginan yang baik maka harus didorong.
Itulah makna sebenarnya dari kesenian Mamaos.”

Waktu pun kembali berputar ke Paldua. Kulit keriput tampak jelas di wajah Abah Tatang. Kini ia tak lagi muda, namun memorinya tentang kesenian dan budaya masih kuat, seolah waktu tak mampu mengalahkan ingatan yang ia pelajari sejak muda.

Baca juga: Tutunggulan, ‘Sinyal Panggilan’ Kampung Ciseureuh Sejak Puluhan Tahun Lalu

Bukan perkara mudah untuk menjabarkan seni Mamaos. Ada tiga faktor penting dalam menyuguhkannya. Pertama, bagaimana menyuguhkan seni ini secara visual. Kedua, menyajikan lantunan suara yang begitu nikmat di telinga. Lalu yang ketiga, bagaimana ia dikonsumsi hingga menyentuh rasa dan pikiran.

“Secara visual, bentuk kecapinya memiliki makna khusus. Contoh kecapi indung yang berbeda dari yang lain; ada gelungnya, ada kawat kuningannya. Itu masing-masing memiliki arti berbeda. Orang Cianjur terlahir dari budayawan dan ulama, maka Tuhan tidak akan memaafkan manusia tanpa ada kata maaf dari Ibu,” kata Abah.

Lebih jauh ia menjelaskan, petikan kecapi dalam seni Mamaos memiliki kekuatan untuk membentuk karakter individu, terutama bagi yang memainkannya. Secara harfiah, sifat dari alat musik dalam kesenian ini menggambarkan orang yang ramah, jujur, lembut dan menghormati Ibu.

“Cara bermain kecapi Cianjuran, meski sederhana, namun ia sarat akan makna. Menggunakan dua jari kiri dan kanan yang berarti ada rasa dan logika, kiri batiniah, dan kanan lahiriah. Tekniknya menyentil, mencolek dan mendorong,” kata Abah.

“Jika anak nakal maka disentil, jika anak lupa maka dicolek untuk diingatkan, jika anaknya memiliki keinginan yang baik maka harus didorong.”

Dan itu, menurut Abah Tatang, adalah nilai luhur yang terkandung dalam kesenian Mamaos.

Bara Mamaos di Kabupaten Cianjur tak akan pernah padam, selama generasi masih terlahir dengan tekad melestarikan warisan Indonesia dari sekian banyak harta karun yang masih terkubur.

Perjalanan Badan Pelestarian Niali Budaya (BPNB) Provinsi Jawa Barat untuk memasang perisai dari serangan budaya asing masih terus dibangun. (MSN)

Welcome! Login in to your account

Remember meLost your password?

Lost Password