[Tausyiah] Irjen Napoleon: Antara Mahalnya Tanggung Jawab dan Sikap Bela Agama

moch-fadlani-salam


ANTARA MAHALNYA TANGGUNG JAWAB
DAN SIKAP BELA AGAMA
Oleh: Ustadz Fadlani Salam, S.Pd.I, M.Pd

… sebab bagi seorang muslim, memahami hidup adalah ketika kita benar, kita mampu mempertahankan kebenaran itu semaksimal mungkin. Jika kita bersalah, maka bertobatlah. Dan jika menerima ketidakadilan, maka sesungguhnya kita akan mendapatkan keuntungan besar di akhirat kelak.”

Baru-baru ini, ada satu berita yang menarik perhatian kita, yaitu tentang seorang Inspektur Jendral Polisi bernama Napoleon Bonaparte yang mengaku telah menganiaya seorang penista agama bernama M. Kece di Rumah Tahanan Bareskrim Polri.

Berita itu viral dan terasa menyentak dan menarik untuk dibaca.

Ada yang menyesalkan tindakan Napoleon, tapi tak sedikit pula yang memberi dukungan secara terbuka. Yang menarik adalah sikap dan pernyataan Irjen Napoleon: “Saya akan mempertanggung-jawabkan semua tindakan saya terhadap M. Kece. Apa pun resikonya.”

Keduanya sama-sama berada dalam tahanan Bareskrim Mabes Polri. M. Kece ditetapkan tersangka dengan kasus penistaan agama Islam, dan ditangkap pada 24 Agustus 2021 di Bali. Polisi meringkusnya setelah ada aduan mengenai kontennya di Youtube yang menghina Islam dan Nabi Muhammad SAW. Sedangkan Irjen Napoleon, ia ditahan atas kasus suap penghapusan red notice Djoko Tjandra dan mendapat hukuman selama empat tahun penjara.

Penganiayaan sesama tahanan sebetulnya bukan hal baru, namun dalam peristiwa ini, tindakan Napoleon seolah-olah seperti mewakili perasaan jutaan umat Islam yang marah atas tindakan Kece.

Kemudian, ada satu hal lain yang layak disoroti, bahwa seorang polisi melakukan tindakan yang secara tegas ia anggap sebagai bagian dari sikap agamanya. Ia tidak rela, ketika Tuhannya, Nabinya, Kitab Sucinya dihinakan. Ini menarik, apalagi setelah mendengar Irjen Napoleon siap untuk bertanggung jawab atas tindakannya.

Perlu kita ingat, bahwa sikap tanggung jawab adalah sikap yang saat ini terasa mahal di Republik yang kita cintai. Masyarakat sudah cukup akrab dengan berbagai berita tentang tokoh-tokoh yang tersandung kasus, yang kemudian melemparkan tanggung jawabnya itu kepada bawahan, rekan, atasan, dan orang-orang sekitarnya.

Sikap enggan bertanggung jawab inilah yang sudah jadi ciri menonjol dari manusia Indonesia. Novelis dan budayawan Mochtar Lubis pernah menjelaskan terkait ciri-ciri tersebut. Pertama adalah “sifat munafik”. Ciri kedua yaitu, bahwa manusia Indonesia masa kini sering kali segan dan enggan bertanggung jawab atas perbuatan, putusan, kelakuan, hingga pikirannya.

‘Bukan saya’ adalah kalimat yang cukup populer di mulut mereka,” begitu kata Mochtar Lubis dalam bukunya Manusia Indonesia.

Sisi lain yang tak kalah menarik adalah sikap bela agama yang ditunjukkan Irjen Napoleon dalam surat terbukanya.

Menurut perspektif dakwah, pendekatan Islam bukan hanya pendekatan yang melibatkan kekerasan. Ada pula pendekatan dakwah dengan cara damai, apalagi jika objek yang di dakwahinya sedang menjalani proses hukuman.

Selain daripada untuk kemaslahatan sosial, agama pada hakikatnya adalah hidayah dari Allah. Maka, pendekatannya dengan dakwah bil hikmah, bukan dengan kekerasan terlebih dahulu.

Memang, dalam al-Quran terdapat ayat yang menerangkan bahwa Rasulullah SAW akan bersikap keras pada orang kafir (lihat QS. al-Fath 48:29), namun menurut Imam Ibnu Katsir, orang beriman yang keras terhadap kaum kafir akan lebih dahulu menampakkan kemarahan dan kemurkaan di hadapannya, bukan lantas langsung berbuat aniaya, dan selanjutnya senantiasa tersenyum ceria wajahnya di hadapan saudaranya yang beriman.

Mengajak dan menyeru pada kebaikan adalah bagian dari ibadah. Umar bin Abdul Aziz, seorang pemimpin alim, pernah mengatakan:

مَنْ عَبَدَ اللهَ بِغَيْرِ عِلْمٍ كَانَ مَا يُفْسِدُ أَكْثَرَ مِمَّا يُصْلُحُ

Artinya: “Barangsiapa yang beribadah pada Allah tanpa ilmu, maka ia akan membuat banyak kerusakan dibanding mendatangkan banyak kebaikan.” (Majmu’ah al-Fatawa 28: 136).

Maka dari itu, kita semua dapat berdakwah dengan pendekatan hikmah. Hikmah adalah tepat dalam perkataan, perbuatan dan keyakinan, serta meletakkan sesuatu pada tempatnya yang sesuai.

Allah SWT berfirman:

ادْعُ إِلَى سَبِيلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ وَجَادِلْهُمْ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ

Artinya: “Serulah (manusia) kepada jalan Rabbmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik.” (QS. an-Nahl 16:125).

Kasus Irjen Napoleon dan Kece sudah ditangani secara hukum. Irjen Napoleon sudah menyatakan siap bertanggung jawab atas sikapnya, dan Kece pun sudah menerima akibat dari perbuatannya menghina Islam. Selain telah diproses secara hukum, Kece juga telah menerima konsekuensi lain dari sikap jahatnya itu.

Sebagai sesama muslim, mari kita doakan semoga Irjen Napoleon Bonaparte diberikan kekuatan iman, kesabaran, dan keteguhan dalam menghadapi berbagai ujian dalam hidupnya. Sebab bagi seorang muslim, memahami hidup adalah ketika kita benar, kita mampu mempertahankan kebenaran itu semaksimal mungkin.

Jika kita bersalah, maka bertobatlah. Dan jika menerima ketidakadilan, maka sesungguhnya kita akan mendapatkan keuntungan besar di akhirat dan menerima balasan berlimpah dari pihak yang telah menzaliminya.

Wallahu a’lam bisshawab.

*Penulis merupakan staf pengajar di Universitas Muhammadiyah Bandung

Welcome! Login in to your account

Remember meLost your password?

Lost Password