[Infografis] BPOM Sulitkan Produksi Vaksin Nusantara

JAKARTA INSPIRA,- Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) seolah sedang ‘mempersulit’ pengembangan Vaksin Nusantara di Indonesia, padahal pemerintah Turki telah memesan sebanyak 5,2 juta dosis vaksin tersebut.

Sehubungan hal itu, anggota DPR RI mencecar Kepala BPOM Penny Lukito pada rapat kerja di kompleks parlemen, Jakarta. Perihal otoritas Turki memesan Vaksin Nusantara pun diungkapkan oleh Anggota Komisi IX DPR RI, Saleh Partaonan Daulay, dalam kesempatan tersebut.

Namun pernyataan Saleh itu disambut dengan goyangan kepala Penny Lukito. Melihat hal itu, Saleh langsung bereaksi keras. “Kalau orang ngomong, goyang kepala. Tolong diperhatikan,” katanya.

Sebelumnya mantan Ketua PP Pemuda Muhammadiyah itu telah menyatakan, saat ini anak bangsa sedang mengupayakan pembuatan vaksin Merah Putih dan Nusantara.

Baca Juga: Ucapan Selamat Tinggal Patty Mills yang Mengundang Haru

Bahkan, rencana pembuatan vaksin Nusantara sudah dipantau oleh Turki. Saleh mengutip pemberitaan media menyebut negara yang dipimpin Recep Tayyip Erdogan siap memesan 5,9 juta dosis. Hanya saja pembuatan vaksin Merah Putih dan Nusantara masih terganjal, karena BPOM belum mengeluarkan izin terhadap dua vaksin tersebut.

Saat momen penjelasan itu, Saleh melihat Penny menggoyangkan kepala.

“Itu ada di media (Turki mau memesan). Jangan goyang kepala. Ibu kalau tidak percaya jangan membantah di sini,” tegas Saleh.

Sementara itu Guru Besar Ilmu Biokimia dan Biologi Molekular Universitas Airlangga, Prof. Chairul Anwar Nidom, mengemukakan ketertarikan dari negara Turki untuk membeli vaksin Nusantara berbasis sel dendritik dari Indonesia.

“Yang jelas, memang luar negeri sudah ada yang minat. Saya dapat informasi dari Dokter Terawan Agus Putranto (penggagas vaksin Nusantara) bawa ada keinginan dari negara Turki membeli vaksin Nusantara,” katanya.

Nidom menuturkan dalam dialog yang berada di kanal Youtube Siti Fadilah, menyampaikan jika vaksin Nusantara rencananya akan di pesan negara Turki sebanyak 5,2 juta dosis. Pemerintah Turki bahkan menawarkan uji klinik untuk fase 3 vaksin Nusantara dilakukan di negara mereka.

“Pada acara tersebut saya sampaikan bawa untuk tindak lanjutnya apakah nanti akan dikelola G to G (antarpemerintah) atau antar-business to business (transaksi bisnis) saya enggak tahu. Untuk Turki, vaksin Nusantara ini justru menguntungkan, karena terus terang bahwa vaksin Nusantara ini dari aspek risiko toksisitas (keracunan), faktor sosial agama itu kan nggak ada masalah. Jadi kalau dia bisa menangkap itu, paling tidak negara Islam akan di-cover sama Turki,” katanya.

© Muthia/beritainspira

Nidom menilai vaksin Nusantara merupakan potensi bagi Indonesia untuk dijadikan aspek ekonomi, berkat terobosan baru dalam teknologi kesehatan dari sebuah vaksin yang sudah berumur 300 tahun itu. Berdasarkan pengamatan aspek sains, pada uji klinik fase 1 dan 2 ke para relawan, tidak ditemukan masalah bahkan para relawan merasa lebih nyaman usai penyuntikan vaksin Nusantara.

Baca juga: Satgas Bantuan Likuiditas BI Tagih Utang ke Tommy Soeharto Rp2,61 Triliun

“Perbedaannya, vaksin Nusantara karena sel dendritik itu tidak terjadi inflamasi, sementara vaksin yang konvensional ini akan terjadi inflamasi,” katanya.

Inflamasi yang dimaksud adalah kejadian ikutan pascaimunisasi (KIPI) yang kerap dialami peserta vaksinasi COVID-19 seperti reaksi demam, kepala pusing, bengkak, bercak kemerahan dan sebagainya usai seseorang menerima suntikan vaksin konvensional.

“Vaksin konvensional yang saya maksud adalah yang berbasis inactivated virus (virus yang dimatikan) maupun platform mRNA. Teknologi memasukkan sesuatu ke dalam tubuh seseorang dengan bahan asing itu adalah konvensional,” katanya.

Sedangkan sel dendritik pada vaksin Nusantara, kata Nidom, diterapkan dengan cara mengeluarkan ‘mesin’ di dalam tubuh untuk diolah di luar tubuh, kemudian setelah aktif dimasukkan kembali ke dalam tubuh penerima manfaat. (MSN)

Login

Welcome! Login in to your account

Remember me
Lost your password?

Lost Password