The Bizarre Retirees: Mereka yang Pensiun dengan Alasan Tak Lazim

SPORT INSPIRA,- Sebagian pesepakbola memiliki karier yang terbilang panjang, namun tidak sedikit pula yang kariernya berakhir pendek. Dunia sepakbola profesional yang kompetitif menuntut pemain agar senantiasa prima dan selalu dalam kondisi terbaiknya.

Menurut data PFA, pemain sepakbola rata-rata berhenti berkarier saat usianya menginjak 35 tahun.

Pada umumnya, pemain memutuskan pensiun dengan alasan natural dan tak bisa dihandiri, misalnya karena faktor usia. Meski begitu, ada beberapa pemain yang memilih gantung sepatu saat tengah berada di puncak karier atau usia emas.

Berbagai dalih dilontarkan, mulai dari hilangnya rasa cinta terhadap sepakbola hingga alasan pribadi atau dipaksa berhenti lantaran cedera.

Baca juga: The Hidden Gems: 7 Transfer Paling Menarik di Musim Panas 2021

Pensiun mungkin terkesan sepele bagi para penikmat kasual. Namun satu hal yang tidak kita ketahui adalah, di balik itu semua terdapat banyak pertimbangan yang mungkin terdengar aneh dan mustahil untuk dipercaya.

Untuk itu, berikut kami sajikan daftar pemain yang memutuskan pensiun dini dengan alasan kurang lazim.


1. Fabrice Muamba


Tragedi di White Hart Lane pada bulan Maret 2012 akan selamanya terpatri di benak pecinta sepakbola Inggris. Pemain Bolton Wanderers, Fabrice Muamba mengalami gagal jantung di babak pertama pertandingan Piala FA.

Pemain yang saat itu masih berusia 24 tahun tersebut secara tiba-tiba kolaps di lapangan, sebelum kemudian dibawa ke unit special perawatan jantung di Rumah Sakit London Chest.

Selang beberapa bulan, muncul sebuah kabar dari klub yang mengumumkan pensiunnya Muamba atas rekomendasi tim medis.

“Sejak menderita serangan jantung dan keluar dari rumah sakit, saya tetap semangat dengan keyakinan bahwa suatu hari saya dapat melanjutkan karier saya dan bermain untuk Bolton Wanderers sekali lagi.

“Sebagai bagian dari pemulihan yang sedang berlangsung, minggu lalu saya pergi ke Belgia untuk mencari nasihat medis dari seorang ahli jantung terkemuka.

“Tetapi berita yang saya terima tidak seperti yang saya harapkan. Saya sekarang mengumumkan pengunduran diri saya dari sepak bola profesional,” kata Muamba.

Meski demikian, Muamba tetap berkecimpung di dunia yang ia cintai. Usai mendapatkan gelar sarjana di Universitas Staffordshire di bidang jurnalisme olahraga, ia melanjutkan karier di BT Sport sebagai komentator.

Pemain jebolan akademi Arsenal ini juga sempat muncul di sebuah acara dansa televisi Inggris. Ia tampak asyik berduet dengan artis Aliona Vilani.


2. David Bentley


Jebolan akademi Arsenal, David Bentley lebih dikenal sebagai winger dari klub tetangganya Tottenham Hotspur.

Pemain kelahiran Peterborough ini sempat jadi pusat perhatian berkat gol voli yang ia cetak dari jarak 40 meter ke gawang mantan klubnya.

Gol indah tersebut pun sontak melambungkan namanya. Ia bahkan langsung digadang-gadang menjadi The Next Beckham karena gaya bermain dan akurasi umpannya yang dianggap mirip dengan mantan pemain Manchester United.

Sayang, gol spektakuler saja tak cukup membuat kariernya mentereng di Spurs. Bentley hanya mencatatkan 42 kali bermain dan sempat dipinjamkan ke berbagai klub.

Adalah sosok muda Aaron Lennon yang jadi penyebab gagal bersinarnya Bentley di Spurs. Selain itu, ia mengaku hubungan buruknya dengan sang manajer, Harry Redknapp, sedikit banyak membuat dirinya tersingkir dari Starting XI, terutama pasca “tragedi siram air” yang cukup memorable di benak pencinta sepak bola.

Bentley memutuskan gantung sepatu di tahun 2014 setelah satu tahun luntang-lantung tanpa klub. Usianya baru menginjak 29 tahun.

“Saya telah kehilangan rasa cinta saya kepada sepakbola,” kata Bentley dalam satu wawancara.

Ia mengatakan bahwa sepakbola modern sudah terlalu bergantung pada teknologi sehingga merusak estetika.

Kini, Bentley telah sepenuhnya beralih ke bidang kuliner dan menjadi pemilik sebuah restoran di Spanyol. Ia juga menaruh saham di sebuah klub pantai dan restoran di London bersama Raheem Sterling dan Alex Oxlade-Chamberlain.


3. Andre Schurrle


Orang mungkin lebih mengingat Mario Gotze sebagai pahlawan Jerman di Piala Dunia 2014. Tetapi tanpa penetrasi dan umpan Andre Schurrle di laga final, mungkin saja gol tersebut tidak akan tercipta.

Schurrle memulai kariernya di Mainz pada tahun 2009, lalu pindah ke Bayer Leverkusen dua tahun berselang.

Namanya dengan cepat melambung bersama Die Werkself dan membuat banyak klub besar Eropa tertarik untuk meminangnya.

Pada tahun 2013 ia memutuskan merantau ke tanah Inggris bersama Chelsea. Di bawah asuhan Jose Mourinho, Schurrle sukses merengkuh trofi Liga Inggris dan satu Piala Liga musim 2014-2015.

Uniknya, ia mengaku sempat frustasi akibat tekanan yang berlebihan dari pelatih berjuluk The Special One itu.

Kabar mengejutkan datang di musim panas tahun 2020. Pemain asal Ludwigshafen ini memilih gantung sepatu usai memutus kontraknya bersama Borussia Dortmund.

“Aku tidak butuh tepuk tangan lagi,” ungkap Schurrle kepada surat kabar SPIEGEL.

Ia mengaku sudah tidak ingin lagi menghadapi kesendirian dan persaingan tanpa henti di sepakbola professional. Schurrle juga merasa stres karena kariernya yang tak kunjung berkembang.


4. Hidetoshi Nakata


Hidetoshi Nakata memulai kariernya di Bellmare Hiratsuka dan berhasil memenangi Asian Cup Winners Cup pada tahun 1995. Hanya butuh dua tahun bagi Nakata untuk masuk jajaran 11 pemain terbaik J.League di tahun 1997. Sejak itulah namanya mulai muncul ke permukaan.

Perugia lantas meminangnya usai Piala Dunia 1998 berakhir, yang mana menjadikannya pemain Jepang kedua yang berlaga di Serie-A.

Keputusan manajemen Perugia itu sempat menimbulkan kritikan pedas dari media setempat, yang menilai perekrutan Nakata hanya sekadar perkara uang.

Dan memang terbukti, karena sejak resmi direkrut, banyak orang dari Negeri Sakura yang berbondong-bondong datang ke Italia untuk menyaksikan Perugia bertanding. Tidak hanya menonton, para pelancong itu juga memborong jersey bertuliskan Nakata dan pernak pernik klub.

AS Roma pun mendapat keuntungan serupa ketika mereka mendatangkan Nakata. Lebih baik lagi, ia bahkan berhasil merengkuh gelar juara liga bersama tim Serigala Ibukota di musim 2020-2021.

Seusai Piala Dunia 2006, kabar mengejutkan datang dari pemain yang dijuliki ‘David Beckham dari Asia’ itu. Nakata memutuskan pensiun di umurnya yang masih 29.

Alasannya? Ia sudah terlalu muak dengan sistem kapitalis yang mulai mengakar di ranah sepak bola.

“Hari demi hari saya menyadari bahwa sepak bola telah berubah menjadi bisnis besar. Saya bisa merasakan tim-tim bermain hanya untuk uang dan bukan untuk bersenang-senang. Saya selalu merasa bahwa sebuah klub harusnya seperti keluarga besar, tetapi sekarang tidak lagi,” ujar Nakata kepada TMW Magazine.

Pria 44 tahun itu kini menggeluti dunia model dan menjadi pebisnis Sake melalui perusahaan yang ia bangun.

Salut, Hidetoshi!


5. Carlos Roa


Alasan pensiun paling tak lazim sepertinya layak disematkan pada Carlos Roa.

Suatu hari, di depan para awak media, Roa mengumumkan dirinya berhenti dari dunia sepak bola.

Terdengar aneh? Belum.

Roa, yang saat itu baru berusia tiga puluh, rupanya ingin mengabdikan hidupnya untuk fokus pada kegiatan keagamaan di Gereja Masehi Advent Hari Ketujuh.

Sudah terdengar aneh? Sama sekali tidak. Justru sebaliknya, kehidupan beragama adalah urusan masing-masing individu, dan patut dihormati oleh setiap orang.

Yang jadi masalah, belakangan diketahui bahwa kelompok gerejanya itu percaya bahwa hari kiamat akan segera datang, dan itulah alasan mengapa Roa ‘menghilang’ begitu saja.

Selang beberapa waktu, Roa ditemukan tengah mengisolasi diri di sebuah desa kecil di pegunungan Cordoba.

Seperti kita ketahui bersama, kiamat yang diyakini oleh kelompok Gereja Masehi Advent Hari Ketujuh ternyata tidak terjadi. Alhasil, Roa kembali melanjutkan karier sepakbolanya dengan perubahan drastis. Ia menjadi seorang vegan dan menolak bermain jika pertandingan berlangsung di hari Sabtu.

Roa sempat mencicipi atmosfer sepakbola Eropa bersama Mallorca selama lima musim dan berhasil meraih trofi Supercopa de Espana. Ia melanjutkan kariernya di Spanyol bersama Albacete sebelum pulang ke kampung halamannya di Argentina. (WAD/SON)

5 Comments

Leave a Comment

Welcome! Login in to your account

Remember meLost your password?

Lost Password