Tertua di Kota Bandung, Begini Perkembangan Kampung Rajut Binong Jati Saat Ini

BANDUNG INSPIRA,- Kaya akan industri kreatif, Kota Bandung tak pernah mati untuk berkreativitas. Salah satunya pusat rajutan tertua di Kota Kembang yakni Sentra kain rajutan Kampung Binong Jati yang sudah ada sejak 1970-an. Hampir seluruh warga kampung menjadi perajut.

Hampir seluruh warga dikawasan tersebut berprofesi sebagai perajut. Bahkan, Kampung itu telah bertahan lebih dari 35 tahun. Sehingga, tidak salah, jika Pemerintah Kota Bandung menetapkan Kampung Binong Jati sebagai salah satu tujuan wisata pada 2007.

Memasuki kawasan Binong Jati, kita pun akan disuguhkan oleh plang bertuliskan kawasan Rajut Binong Jati, Kota Bandung. Salah seorang pengrajin rajut, Dewi Ratna Purwanti (31 tahun) mengungkapkan bahwa ia merupakan generasi ketiga dari keluarga pengrajin rajut. Keluarga besarnya memulai usaha rajut pada tahun 1998 sedangkan dirinya memulai usaha pada tahun 2015 lalu.

“Orang tua asli sini Binong Jati juga pengrajin rajut sejak 1998. Saya sendiri generasi ketiga mulai usaha tahun 2015,” ujar Dewi kepada wartawan saat acara peresmian Binong Jati sebagai Kampung Wisata Kreatif, Rabu (06/10/2021).

Sayangnya, ia tidak mengetahui secara persis sejarah pengrajin rajut di Binong Jati. Meski ia tidak begitu paham, namun diakuinya produk yang terkenal adalah mantel rajut yang biasa digunakan saat musim dingin.

Produk-produk tersebut pada masanya sempat di ekspor ke Australia bahkan Amerika Serikat. Seiring berjalannya waktu, produk yang diproduksi tidak hanya untuk musim dingin tapi sehari-hari.

Sebelum tahun 2015, katanya, bisnis rajut di Binong Jati mengalami pasang surut. Akan tetapi, sejak dirinya terjun langsung ke bisnis rajut mulai mengalami peningkatan terlebih ia membuat model-model baru sesuai yang diinginkan pasar seperti baju Korea.

“Usaha rajut mengalami naik turun. Bahkan, usaha rajut dulu sempat turun banget. Saya mulai usaha tahun 2015 dan membuat model baru serta motif baru kekinian. Pas saya lagi naik karena kiblat saya ke Korea-Korean saya buat model itu yang lain ikut,” katanya.

Ia menuturkan, produknya masuk ke pasar Tanah Abang, Jakarta selain itu pernah mengekspor ke New Zealand dan Meksiko. Sebelum pandemi terjadi, tiap bulan Dewi memproduksi pasmina sebanyak 1.000 pcs ke Malaysia.

“Yang diekspor keluar negeri kupluk dan syal. Saya belum ada syarat ekspor jadi pakai pihak ketiga. Alhamdulillah sekarang difasilitasi Disdagin,” ucapnya.

Menurutnya, total pengrajin rajut di Binong Jati kurang lebih sebanyak 400 orang. Mereka memproduksi produk rajut berskala home industri. Dewi mengatakan pada awal-awal pandemi Covid-19, pengrajin rajut terkena dampak signifikan namun seiring waktu mulai mengalami perbaikan omset dengan salah satunya menjual produk secara online.

“Dampak pandemi kena pada awal-awal. Kita open PO syal umroh sekarang masih ada belum dijual. Malahan, awal pendemi drop banget sekarang aktif lagi dan di online mulai membaik,” paparnya.

Ia pun mengaku menjual produk rajut dari harga Rp 40 ribu hingga Rp 500 ribu. Bahan baku sendiri ia peroleh dengan mudah di kawasan tersebut.

Sementara itu Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Bandung, Dewi Kania Sari mengatakan untuk pemulihan ekonomi di Kota Bansung, pihaknya telah meresmikan tiga kampung wisata di Kelurahan Braga, Kelurahan Cigadung dan Kelurahan Binong. Selanjutnya, pihaknya berencana meresmikan kampung literasi di Kecamatan Cinambo.

“Masyarakat terlibat, tidak top down tapi masyarakat terlibat,” tandasnya. (TRI)

Welcome! Login in to your account

Remember meLost your password?

Lost Password