[Tausyiah] Shalat Idul Adha di Masa Corona

muslim_prayer

SHALAT IDUL ADHA DI MASA CORONA
Oleh: Ustadz Fadlani Salam, S.Pd.I, M.Pd

Sudah setahun lebih sejak pandemi COVID-19 melanda negara kita Indonesia. Baru-baru ini, pemerintah resmi menerapkan kebijakan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) Darurat. Kebijakan ini mulai berlaku pada 3 Juli hingga 20 Juli 2021 di berbagai kabupaten/kota di Pulau Jawa dan Bali.

Pemerintah melalui Kementerian Agama telah resmi menetapkan Hari Raya Idul Adha 1442 H melalui sidang itsbat, yaitu jatuh pada tanggal 20 Juli 2021. Perayaan Idul Adha tahun ini jatuh saat diberlakukannya PPKM Darurat.

Maka dari itu, Kementrian Agama berkewajiban mengatur pelaksanaan Idul Adha di tengah kebijakan tersebut, mulai dari takbiran, shalat Id, hingga pelaksanaan penyembelihan hewan kurban.

Seluruh aturan tersebut dijelaskan dalam Surat Edaran Nomor 17 Tahun 2021. Malam takbiran di masjid atau musala maupun takbir keliling ditiadakan di seluruh wilayah yang sedang menerapkan PPKM Darurat, sementara kegiatan shalat ‘Id harus dilakukan di rumah.

Meski demikian, ada saja perbedaan di antara masyarakat muslim dalam menanggapi aturan tersebut, terlebih jika sudah masuk pada wilayah fiqih ibadah. Salah satu respons yang sering diperbincangkan adalah kegiatan pelaksanaan shalat ‘Id.


Baca juga: Dalil-dalil Penentuan Hukum Shalat Berjamaah di Masa Pandemik


Perbedaan sebagian masyarakat muslim lebih condong pada dua hal, yaitu hukum dari shalat ‘Id itu sendiri dan bagaimana kaifiyat-nya (tata cara).

Shalat secara garis besar memiliki dua kategori, yakni wajib dan sunah.

Shalat wajib terbagi dua: wajib ‘ain (wajib individu) dan wajib kifayah (wajib kolektif).

Wajib ‘ain adalah shalat yang dilaksanakan oleh setiap individu muslim saat sudah memasuki usia kematangan spiritual (balig), contohnya shalat sebanyak lima kali sehari dengan waktu yang telah ditetapkan dan tidak boleh diwakili atau diganti oleh orang lain. Jika mengabaikan atau meninggalkannya, maka berkonsekuensi dosa.

Ada pun wajib kifayah adalah shalat yang dilaksanakan secara kolektif yang boleh diwakilkan kepada sekelompok orang saja, contohnya seperti shalat jenazah.

Shalat sunah adalah shalat penyempurna shalat wajib. Shalat sunah lebih banyak variannya dari shalat wajib. Shalat sunah jika ditinjau dari aspek urgensitas hukumnya ada dua kategori, yaitu sunah mu’akkadah dan sunah ghair (tidak) mu’akkadah. Sunah mu’akkadah perintahnya tegas dan sangat dianjurkan. Sedangkan sunah ghair mu’akkadah adalah shalat sunah yang dianjurkan tanpa ada perintah tegas dan penekanan yang kuat.

Salah satu jenis sunah mu’akkadah adalah shalat ‘Id, dan shalat ‘Id itu ada dua, yaitu idul fitri dan Idul Adha. Idul fitri adalah shalat yang dilaksanakan pada 1 syawal setelah selesai melaksanakan shaum ramadhan. Idul Adha adalah shalat yang dilaksanakan pada 10 dzulhijjah seiring dengan pelaksanaan penyembelihan hewan kurban.

Kata ‘Id (العيد) berasal dari kata al-‘aud (kembali). Artinya kembali mengulang kegembiraan tiap tahun. Makna lainnya adalah Allah SWT mengembalikan kebaikan-kebaikan kepada hambaNya tiap tahun, di antaranya seperti pada Idul Fitri, kembali ke fitrah (suci) setelah selesai menahan lapar dan mengeluarkan zakat jiwa. Ada pun pada Idul Adha, kembalinya kebaikan yang diperoleh di hari penyembelihan hewan kurban.


Baca juga: Disunnahkan Tidak Makan atau Minum Sebelum Shalat Idul Adha


Para ulama memiliki perbedaan pendapat terkait hukum dan pelaksanaan shalat ‘Id. Berikut di antara penjelasannya:

Hukum Shalat ‘Id

Menurut Madzhab Hanafi wajib bagi setiap muslim sebagaimana wajibnya shalat Jum’at, Malikiyyah dan Syafi’iyyah berpendapat; sunah mu’akkadah. Hanabilah berpendapat fardlu kifayah, artinya ketika sudah ada yang melaksanakan maka gugur kewajiban bagi yang lain, sebagaimana shalat jenazah.

Tempat Pelaksanaanya

Memang, pada dasarnya setiap tempat suci bisa digunakan untuk shalat ‘Id, baik tanah lapang atau di masjid. Namun dalam hal ini para fuqaha’ terbagi ke dalam dua pendapat. Pertama, pendapat jumhur ulama (selain Syafi’iyyah), apabila di luar Mekkah, maka shalat ‘Id dilaksanakan di tanah lapang, bukan di masjid, kecuali jika ada udzur, maka tidak mengapa shalat di masjid. Ini berdasar pada dalil hadits dari Abu Hurairah:

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ أَصَابَ النَّاسَ مَطَرٌ فِي يَوْمِ عِيدٍ عَلَى عَهْدِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَصَلَّى بِهِمْ فِي الْمَسْجِدِ

Artinya: “Dari Abi Hurairah pernah turun hujan pada hari raya pada zaman Rasulullah SAW, kemudian Rasulullah shalat bersama kami di masjid.”

Hadits riwayat Abu Dawud dengan sanad jayyid, Hakim mengatakan; shahih.

Juga riwayat Umar dan Utsman, mereka berdua shalat ‘Id di masjid ketika turun hujan. Namun bagi seseorang yang berada di Mekkah, maka lebih utama baginya adalah shalat di masjidil haram, karena keutamaan tempat (dekat ka’bah) dan merupakan bagian dari syiar agama yang paling agung.

Kedua, menurut Syafi’iyah, mengerjakan shalat ‘Id di masjid itu lebih utama, karena itu tempat yang paling bersih dan mulia dari tempat-tempat lainnya. Namun pengecualian apabila masjid tersebut sempit dan tidak mampu menampung jamaah, maka sunah baginya shalat di tanah lapang sebagaimana yang dilakukan Rasulullah SAW.

Sedangkan apabila ada kekhawatiran para jamaah akan berdesak-desakan, maka sebaiknya shalat di lapangan. Makruh hukumnya jika tetap memaksakan shalat di masjid.

Dari fatwa Imam As-Syafi’i ini, Al-Hafidz Ibnu Hajar Al-Asqalani membuat kesimpulan bahwa permasalahan ini sangat bergantung kepada luas atau sempitnya suatu tempat, karena diharapkan pada hari raya, seluruh masyarakat dapat berkumpul di suatu tempat.

Oleh kerana itu, jika faktor hukumnya (illatul hukm) adalah supaya masyarakat berkumpul (ijtima’), maka shalat ‘Id dapat dilakukan di dalam masjid. Dengan begitu, melaksanakan shalat ‘Id di dalam masjid lebih utama daripada di tanah lapang. Dan jika ditengah-tengah para jamaah ada orang-orang lemah (tidak bisa shalat di lapangan), imam berhak memindahkan tempat shalat ke masjid dan shalat bersama mereka.

Sendiri atau Berjamaah?

◉ Tidak boleh shalat ‘Id sendirian, karena yang dicontohkan Nabi ialah berjamaah. Ini adalah pendapat mazhab Hanafi (al-Mabsuth, 2/39).

◉ Boleh memilih, jika ingin mengerjakan sendiri silahkan, jika tidak mengerjakan tidak mengapa, tetapi pahala sunah jika dikerjakan. Tata caranya sebagaimana shalat bersama imam, dengan takbir ziyadah (tambahan). Ini adalah pendapat Madzhab Maliki (al-Mudawwanah, 1/236).

◉ Boleh melakukan shalat ‘Id sendiri jika tidak mendapati shalat bersama imam. Tata caranya sebagaimana sholat ‘Id bersama imam, dengan takbir ziyadah (al-Umm, 1/274-275).

◉ Boleh melakukan sholat ‘Id sendiri jika tidak mendapati shalat ‘Id bersama imam. Ada pun tata caranya, ada dua cara: dua rakaat seperti shalatnya imam dan empat rakaat seperti shalat sunah biasa. Ini adalah pendapat madzhab Hanbali (al-Mughni, 2/289-290).


Baca juga: Syarat Menjadi Imam Shalat Berjamaah


Shalat Idul Adha di Masa Pandemi

Ketika kita berupaya untuk tetap melaksanakan di rumah masing-masing, artinya kita juga sedang berusaha menghidupkan syiar di antara keagungan hari Idul Adha, karena menghidupkan syiar-syiar agama sesuai kemampuan itu pun merupakan bagian dari perintah.

Kondisi hari ini yang tengah diuji dengan pandemi, di mana seseorang bisa saja tidak bisa melaksanakan shalat ‘Id di daerahnya dengan dalih untuk menghindari penyebaran wabah Corona. Apakah bisa dilaksanakan di rumah?

Telah kita ketahui bersama bahwa udzur-udzur yang membolehkan seseorang untuk meninggalkan shalat berjamaah antara lain; sakit, safar dan dalam kondisi takut. Wabah COVID-19 dalam hal ini masuk pada kategori terakhir, yaitu kondisi takut, karena berpotensi menyebarnya virus secara masif. Rasulullah SAW bersabda:

مَنْ سَمِعَ النِّدَاءَ فَلَمْ يَأْتِهِ، فَلَا صَلَاةَ لَهُ، إِلَّا مِنْ عُذْرٍ, قَالُوْا : يَارَسُوْلَ اللهِ وَمَا العُذْرُ؟ قَالَ : خَوْفٌ أَوْ مَرَضٌ

Artinya: “Barangsiapa yang mendengar seruan (shalat berjamaah) kemudian tidak mendatanginya, maka tidak ada shalat baginya kecuali bagi orangyang mempunyia udzur. Para sahabat bertanya; seperti apa udzur yang dimaksud, Rasul menjawab: rasa takut atau sakit.” (HR. Abu Dawud).

Berdasarkan hadits di atas, mereka yang tidak mendirikan shalat ‘Id di tanah lapang gara-gara adanya wabah, bisa dikategorikan akibat takutnya tersebut.

Di samping itu, ulama juga telah merumuskan sebuah kaidah “la dharar wa la dhirar” yang menegaskan bahwa ibadah tidak boleh berbahaya bagi dirinya atau membahayakan orang lain. Apa pun yang melanggar pakem kaidah ini, mesti diatur lagi sedemikian rupa.

Di masa pandemi ini, shalat berjamaah di masjid maupun di tanah lapang dapat berpotensi menyebarkan virus mematikan ini. Karena potensi yang membahayakan diri dan orang lain, maka ulama dan pemerintah menganjurkan untuk shalat di rumah. Anjuran beribadah di rumah ini insyaa Allah akan mendapatkan pahala karena kebersamaan turut menghindarkan orang lain dari bahaya.

Ketika kita berupaya untuk tetap melaksanakan di rumah masing-masing, artinya kita juga sedang berusaha menghidupkan syiar di antara keagungan hari Idul Adha, karena menghidupkan syiar-syiar agama sesuai kemampuan itu pun merupakan bagian dari perintah. Sebagaimana Allah SWT berfirman:

فَاتَّقُوا اللَّهَ مَا اسْتَطَعْتُمْ

Artinya: “Maka bertakwalah kamu kepada Allah menurut kesanggupanmu.” (QS. At-Taghabun: 16).

Kemudian sabda Nabi SAW:

وَمَا أَمَرْتُكُمْ بِهِ فَأْتُوا مِنْهُ مَا اسْتَطَعْتُمْ

Artinya: “… ketika kalian diperintahkan untuk melakukan sesuatu, maka lakukan semaksimal mungkin.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Kesimpulan

Berdasarkan paparan di atas, bagi keluarga muslim yang pada tahun ini tidak memungkinkan shalat ‘Id sebagaimana biasa, hendaklah menghias rumah dan mempersiapkannya untuk shalat ‘Id di dalamnya, bertakbir di waktu-waktu yang disyariatkan, lalu shalat bersama-sama dengan keluarga.

Ketua Komisi Fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI) Hasanuddin Abdul Fatah telah menjelaskan sebuah panduan terkait tata cara shalat Idul Adha di rumah sama seperti saat keadaan normal (Fatwa No.36 Thn. 2020 tentang Shalat Idul Adha dan Penyembelihan Hewan Qurban Saat Wabah COVID-19).

Sedangkan bagi mereka yang berada di daerah tak terdampak pandemi, berlaku atasnya hukum asal, artinya mereka harus melakukan shalat ‘Id sebagaimana biasa.

Ini semua dilakukan dengan tujuan menunjukkan syiar Islam sesuai dengan kadar kemampuan, membuat suasana gembira dan bahagia di hati setiap kaum muslimin.

Wallahu a’lam bisshawab.

*Penulis merupakan staf pengajar di Universitas Muhammadiyah Bandung

0 Comments

    Leave a Comment

    Welcome! Login in to your account

    Remember meLost your password?

    Lost Password