Silent Treatment, Sikap Pengabaian yang Termasuk Kekerasan Emosional

© NBC

LIFESTYLE INSPIRA,- Komunikasi menjadi sebuah faktor penting demi terjalinnya hubungan yang baik dengan orang lain. Namun, pernahkah lawan bicaramu memilih untuk diam dan tidak menghiraukan keberadaanmu saat sedang bertengkar? Ia mendengar apa yang Anda bicarakan, namun memilih acuh dan sibuk melakukan kegiatannya sendiri. Sikap ini dikenal dengan istilah silent treatment.

Melansir dari Life Hack, silent treatment bisa diartikan sebagai metode untuk memberi hukuman secara psikologis dengan mengabaikan orang lain. Silent treatment bisa terjadi dalam relasi pertemanan, hubungan kerja atau bahkan lingkungan keluarga yang memang cara mendidiknya terbiasa seperti itu: mendiamkan seseorang dengan dalih agar mereka bisa merenung dan mencari tahu alasannya sendiri.

Diam setelah mengalami konflik memang wajar dilakukan, apalagi sebagai reaksi spontan atau sebagai maksud meredakan konflik. Namun, sikap ini bisa menjadi akar dari sebuah hubungan yang tidak sehat, karena hanya mementingkan diri sendiri daripada perasaan orang lain.

Dampaknya Terhadap Psikis Korban?

Menurut jurnal yang dipublikasikan di Communication Monographs, kebanyakan orang mendiamkan pasangannya adalah untuk menghentikan perilaku atau kata-kata, bukan untuk memancing emosi. Namun di sisi lain, perilaku mendiamkan tak jarang juga digunakan untuk memanipulasi pasangannya dan membangun kekuasaan atas pasangan.

Hal ini membuat seseorang mengambil alih situasi untuk melakukan playing victim atau berpura-pura tidak tahu tentang masalah yang terjadi, sehingga menganggap perasaan pasangan tidak masuk akal. Selain itu, tindakan ini juga biasanya dilakukan untuk memberi pelajaran kepada pasangan atas kesalahannya atau tidak menghargai dan tidak ingin tahu tentang perasaan pasangan.

Fenomena ini tidak menutup kemungkinan dapat membuat korban menderita secara psikis, seperti mengalami depresi, frustasi, perasaan gelisah, terisolasi dan merasa ditolak dengan adanya rasa bersalah, kesepian, dan putus asa. Bahkan, perilaku ini memungkinkan juga terbentuknya rasa pengkhianatan yang muncul akibat merasa tidak dihargai, tidak dicintai, dan merasa tidak layak.

Termasuk Tindak Kekerasan

Silent Treatment bisa dianggap sebagai kekerasan emosional ketika mereka menggunakan keheningan untuk menyalahkan pasangan dan membuat mereka terus merasa bersalah. Mereka juga menggunakan keheningan yang berlangsung lama untuk mengharuskan korban untuk patuh selama beberapa hari.

Lebih dari itu, sikap ini dinilai kekerasan saat perlakuan tersebut berakhir dengan korban yang meminta maaf, memohon, bahkan menyerah pada tuntutan yang diberikan.

Mirisnya, kebanyakan orang yang menjadi korban silent treatment ini tidak menyadari jika mereka telah mengalami kekerasan secara emosional. Sementara sebagian pelaku mampu bersikap cuek dengan tidak memberikan tanggapan berarti terhadap perasaan yang dimiliki korbannya.

Menurut Medical News Today, tindakan ini malah membuat salah satu pihak jadi tidak memiliki kemauan untuk menyelesaikan konflik dengan cara yang benar. Imbasnya, masalah jadi terus menerus menumpuk dan berlarut-larut sehingga akan menciptakan toxic relationship, kurangnya keintiman, komunikasi yang memburuk, bahkan bisa berakhir dengan perpisahan.

Tindakan solutif untuk menyikapi permasalahan ini bukanlah diam, mengabaikan atau menyalahkan orang lain. Tetapi memberi ruang untuk saling introspeksi diri, saling mendengarkan dan memaafkan, serta menciptakan komunikasi yang efektif bukan hanya mengikuti ego dan mementingkan kemauan sendiri. (SON)

 

Penulis: Azahra Salsabila
Editor: Agia Aprilian

Welcome! Login in to your account

Remember meLost your password?

Lost Password