Sikap Rasulullah Saw Ketika Menghadapi Kasus Kekerasan Seksual

RISALAH INSPIRA,- Kasus kekerasan seksual masih marak terjadi, baik di ruang-ruang privat maupun publik. Tak hanya dilakukan oleh laki-laki pada perempuan. Dalam beberapa kasus juga dikatakan bahwa kekerasan dilakukan oleh perempuan pada laki-laki, bahkan sesama jenis.

Kekerasan seksual menimbulkan kerugian bagi penyintas, baik secara fisik maupun psikis. Namun, kasus kekerasan seksual ini masih dianggap sebelah mata bagi banyak orang. Khususnya bagi kaum perempuan.

Perempuan memiliki simbol kesucian dan kehormatan, jika dirinya mengalami kekerasan seksual, misalnya pemerkosaan, dirinya enggan melaporkan atau akan dipandang sebelah mata karena kasus tersebut dirasa menjadi aib yang perlu dirinya tutupi.

Ketika melapor pada pihak yang berwenang pun, sang penyintas akan ditodong dengan berbagai pertanyaan yang memojokkannya seperti dalam Berita Acara Pemeriksaan (BAP) Polisi ketika menerima laporan pemerkosaan. melansir tirto.id, dalam BAP tersebut sang penyintas perlu menjawab pertanyaan seperti: apakah kau benar-benar dipaksa atau menikmatinya? mengapa lewat jalan situ?

Hal tersebut memicu trauma baru bagi korban. Akhirnya banyak korban lebih memilih untuk menyimpan traumanya dengan diam daripada harus melapor.

Lalu, bagaimana Rasulullah Saw sebagai sang suri tauladan menyikapi kasus kekerasan seksual seperti peemrkosaan?

Diriwayatkan Imam Abu Dawud didalam Sunan-nya:

عَنْ عَلْقَمَةَ بْنِ وَائِلٍ، عَنْ أَبِيهِ، أَنَّ امْرَأَةً، خَرَجَتْ عَلَى عَهْدِ النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم تُرِيدُ الصَّلاَةَ فَتَلَقَّاهَا رَجُلٌ فَتَجَلَّلَهَا فَقَضَى حَاجَتَهُ مِنْهَا فَصَاحَتْ وَانْطَلَقَ فَمَرَّ عَلَيْهَا رَجُلٌ فَقَالَتْ إِنَّ ذَاكَ فَعَلَ بِي كَذَا وَكَذَا وَمَرَّتْ عِصَابَةٌ مِنَ الْمُهَاجِرِينَ فَقَالَتْ إِنَّ ذَلِكَ الرَّجُلَ فَعَلَ بِي كَذَا وَكَذَا ‏.‏ فَانْطَلَقُوا فَأَخَذُوا الرَّجُلَ الَّذِي ظَنَّتْ أَنَّهُ وَقَعَ عَلَيْهَا فَأَتَوْهَا بِهِ فَقَالَتْ نَعَمْ هُوَ هَذَا ‏.‏ فَأَتَوْا بِهِ النَّبِيَّ صلى الله عليه وسلم فَلَمَّا أَمَرَ بِهِ قَامَ صَاحِبُهَا الَّذِي وَقَعَ عَلَيْهَا فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَنَا صَاحِبُهَا ‏.‏ فَقَالَ ‏”‏ اذْهَبِي فَقَدْ غَفَرَ اللَّهُ لَكِ ‏”‏ ‏.‏ وَقَالَ لِلرَّجُلِ قَوْلاً حَسَنًا ‏.‏ قَالَ أَبُو دَاوُدَ يَعْنِي الرَّجُلَ الْمَأْخُوذَ وَقَالَ لِلرَّجُلِ الَّذِي وَقَعَ عَلَيْهَا ‏”‏ ارْجُمُوهُ ‏”‏ ‏.‏ فَقَالَ ‏”‏ لَقَدْ تَابَ تَوْبَةً لَوْ تَابَهَا أَهْلُ الْمَدِينَةِ لَقُبِلَ مِنْهُمْ ‏”‏ ‏.‏ قَالَ أَبُو دَاوُدَ رَوَاهُ أَسْبَاطُ بْنُ نَصْرٍ أَيْضًا عَنْ سِمَاكٍ ‏.

Artinya; Dari Alqamah bin Wail, dari Ayahnya, ia meriwayatkan bahwa pada masa Nabi, seorang wanita pernah berangkat salat, lalu seorang lelaki menyergapnya dan memaksakan dirinya pada perempuan itu (menyerangnya secara seksual), setelah selesai melakukan aksinya, lelaki itu pergi. Perempuan itu lalu berteriak-teriak ketika ada seorang lelaki yang lewat. Perempuan itu berteriak, “Lelaki itu melakukan begini dan begini kepadaku”. Teriakannya didengar oleh sekelompok kaum Muhajirin yang juga lewat di tempat itu. Mereka lalu menangkap lelaki yang dituduh oleh si perempuan.

Lelaki itu kemudian dihadapkan kepada Nabi Muhammad saw. Ketika Rasulullah hendak menghum si tertuduh, berdirilah seseorang yang mengaku sebagai pelaku yang sesungguhnya. Rasulullah saw lalu bersabda kepada perempuan itu, “Pergilah, sesungguhnya Allah telah mengampunimu”. Rasulullah juga berkata kepada si tertuduh dengan kata-kata yang baik. Beliau saw kemudian bersabda, “Rajmalah ia! (lelaki yang mengakui perbuatannya itu)”, beliau lalu bersabda, “Lelaki ini telah sungguh-sungguh bertaubat sehingga sekiranya semua penduduk Madinah bertaubat dengannya, maka taubat mereka pasti akan diterima”. (HR. Abu Dawud)

Dalam riwayat ini dijelaskan terkait kekerasan seksual yang terjadi pada masa Rasulullah Saw. Berikut sikap Rasulullah Saw saat menghadapi kejadian pemerkosaan ini.

Pertama, pada sang penyintas Rasulullah Saw sangat memerhatikan kondisi psikisnya, tanpa menodong sang perempuan dengan pertanyaan-pertanyaan seperti dalam BAP Polisi. Tak ada kesan apapun bahwa Rasulullah Saw menyalahkan penyintas.

Kedua, hadis ini juga menjadi landasan oara fuqaha menetapkan bahwa perempuan yang menjadi penyintas pemerkosaan tidak dikenakan hukuman. Bahkan, Rasul menegaskan bahwa Allah Swt mengampuninya. Mengutip laman santricendekia, Ibnu Ruslan berpendapat bahwa dalam kalimat tersebut sang penyintas mendapatkan kasih sayang Allah dengan mengakunya pelaku yang sebenarnya.

Ketiga, Rasulullah memberikan penekanan pada dirinya bahwa Allah Swt mengampuni dirinya dan tidak perlu terbebani dengan rasa bersalah karena berzina, atau melakukan tuduhan palsu. Jadi, ia tidak perlu kehilangan dirinya. (GIN)

0 Comments

    Leave a Comment

    Welcome! Login in to your account

    Remember meLost your password?

    Lost Password