Self-Diagnosis: Baik untuk Kesadaran, Bahaya bagi Kesehatan

© Magdalene

HEALTH INSPIRA,- Kondisi tubuh yang sedang kurang baik memang selalu mengundang berbagai penyakit fisik. Selain itu, menumpuknya masalah yang menjadi beban pikiran dapat menimbulkan penyakit psikis.

Jika penyakit itu berkepanjangan atau dirasa memunculkan gejala-gejala yang baru, tentu orang yang mengalaminya akan penasaran tentang apa penyakit yang dideritanya. Sebagian orang terkadang mencari informasi seadanya dan menebak penyakit apa yang diderita.

Menurut terminologi medis, penyakit ini dikenal sebagai Self-Diagnosis.

Apa itu Self-Diagnosis?

Self-Diagnosis adalah tindakan seseorang yang mendiagnosis diri sendiri bahwa dirinya mengidap gangguan atau penyakit berdasarkan informasi yang ia cari sendiri. Saat sedang mengumpulkan informasi, seolah-olah orang itu sudah mengetahui 100% masalahnya, pedahal semua yang ada di internet itu belum tentu benar, yang sudah benar pun belum tentu menjadi solusi, karena ada banyak penyakit yang berbeda tetapi memiliki gejala yang sama. Contohnya DBD dan tipes, gejala awalnya memang sama, namun penanganan dan pengobatannya berbeda.

Di zaman modern ini segala hal sudah mudah, dalam mencari informasi pun tinggal membuka internet, kemudahan ini membuat orang yang penasaran mulai mencari tahu sendiri tentang gejala yang dialaminya tanpa meminta bantuan orang yang ahli.

Tidak ada yang salah dengan berusaha sendiri dan mencari informasi di internet atau bertanya kepada kerabat. Namun, untuk hal yang sangat penting seperti kesehatan, akan sangat lebih baik jika bertanya kepada ahlinya.

Ada saja orang yang mengalami beban pikiran dan menyatakan hasil self-diagnosenya ke media sosial. Entah karena memang sudah menjadi budaya, orang-orang mendukung temannya dengan menerima apa yang temannya ucapkan. Misalnya, seseorang yang moody-an membuat postingan bahwa dirinya mengidap gangguan mental bipolar, pedahal belum melakukan konsultasi atau pemeriksaan.

“Wah, stay strong ya.”
“Yang sabar ya.”
“Berjuang terus, pasti bisa dilewati.”

Itulah tipikial komentar dari teman-teman di media sosial. Mereka memberi dukungan dengan cara mengkonfirmasi apa yang telah ia sampaikan seolah-olah penyakit itu memang benar-benar dialami. Kita jarang atau bahkan tidak pernah menemukan komentar yang mengatakan:

“Sudah konsul belum?”
“Apa kata dokter?”
“Jangan dibiarkan, cepat periksa”

Bahaya Self-Diagnosis

© Whiteboard

Sadar bahwa memiliki masalah kesehatan dan berupaya untuk mengobatinya sendiri merupakan niat yang baik. Tetapi untuk mendiagnosis penyakit apa yang diderita membutuhkan tenaga ahli atau dokter yang melakukan prosedur konsultasi, pemeriksaan, dan monitoring jangka panjang apabila diperlukan agar hasilnya tepat. Hal tersebut tak sebanding dengan membaca-baca di internet.

Apa saja bahaya dari Self-Diagnosis?

1. Salah diagnosa

Seperti yang sudah kita ketahui, ada banyak jenis penyakit yang memiliki gejala yang sama.

2. Menimbulkan kepanikan

Kepanikan bisa terjadi apabila kita mengira bahwa penyakit yang dialami merupakan penyakit yang sangat berbahaya.

3. Salah penanganan

Tentunya tiap-tiap penyakit memiliki obat atau cara penanganan yang berbeda. Apabila salah menangani, ditakutkan hal-hal lain yang tidak dinginkan justru bertambah

4. Penyakit yang sebenarnya terabaikan

Karena tidak mendapatkan penanganan yang tepat, penyakit yang dialami akan bertambah parah atau muncul lagi masalah yang baru.

5. Terlalu sering self-diagnosis akan meragukan kemampuan profesional dan enggan berkonsultasi dengan ahli.

Jangan pernah menyepelekan hal-hal penting, kesehatan salah satunya. Mencari informasi di internet boleh dilakukan untuk berjaga-jaga, tetapi hasil konsultasi bersama para ahli lah yang harus dijadikan acuan utama. Hubungilah orang yang profesional pada bidangnya jika memiliki masalah. (SON)

 

Penulis: River Rais
Editor: Agia Aprilian

Login

Welcome! Login in to your account

Remember me
Lost your password?

Lost Password