Eksperimentasi dan Abstraksi Fotografi dalam Pameran Foto ‘Road To Bandung Photography Triennale’

TRIENNALE

‘WELCOME TO THE MACHINE’
EKSPERIMENTASI DAN ABSTRAKSI
Liputan khusus oleh: Tim Redaksi

SENI INSPIRA,- Kota Bandung tengah diramaikan dengan kehadiran pameran foto ‘Road to Bandung Photography Triennale’ yang digelar di tiga galeri seni, salah satunya di Selasar Sunaryo Art Space.

Pameran ini memajang karya-karya milik para seniman foto dan seni rupa, baik dalam maupun luar negeri dengan judul ‘Welcome to the Machine’ dan mengusung tema eksperimentasi dan abstraksi.

Henrycus Napitsunargo selaku kurator pameran mengatakan, pada abad 20 pasca perang dunia pertama, di mana kehadiran mesin dan industri mulai terasa, fotografi hadir di sana sebagai alat rekam. Fotografi dianggap sebagai media yang menjanjikan kemajuan, namun juga memberi konsekuensi yang tak bisa dianggap remeh.

“Kita dapat melihat kejadian penting lewat foto dan inilah kemajuan. Akan tetapi konsekuensinya kita dapat melihat banyak sampah atau limbah digital,” kata Henrycus saat ditemui langsung, Selasa (21/9).

Jika dibandingkan dengan medium lain seperti lukis atau grafis, kata dia, fotografi berkembang dengan sangat pesat dan tidak memberi jeda kepada publik untuk membicarakan wacananya.

“Fotografi memiliki kinerja optik, mechanical, chemical, dan hari ini ada digital. Ini adalah ruang bermain ketika kita memiliki kontrol dari setiap elemen proses ini dan kita akan menghasilkan gambar yang berbeda,” ujar sang kurator.

Pada pameran ini, karya yang dipajang berasal dari seniman dengan berbagai latar belakang dan budaya. Mereka menangkap suatu fenomena global mengenai industri dalam bentuk apa pun yang dianggap sebagai representasi dari kinerja mesin, dan bagaimana para seniman berbahasa dengan caranya masing-masing, mengkritik, mempertanyakan, dan menggeser perspektif terhadap makna ‘mesin’ hari ini.

Tentu dengan mediumnya sendiri untuk menyeimbangkan bahwa kita punya hak untuk berdampingan dengan mesin, bukan menjadi bagian dari mesin itu sendiri.”
—Henrycus Napitsunargo

Para seniman di pameran ini, menurut Henrycus, berbicara dengan pengalaman, makanan, alat-alat keseharian, tekstil, bahkan kimia dan foto keluarga, sebagai komponen eksperimen yang dieksplorasi secara bebas.

Seperti Sophie Chalk yang mengambil proses kimia di atas kain sutra yang diletakan diatas tanaman untuk merepresentasikan bahwa lingkungan dan produk industri berdampingan.

“Ada juga Yixiu Guo yang melakukan digital painting dengan mengumpulkan foto sampah industri yang banyak mengapung disungai. Hasil foto abstrak inilah yang menjadi respon para seniman terhadap fenomena-fenomena global,” ungkap Henrycus.

Henrycus Napitsunargo sedang menjelaskan salah satu karya yang dipajang di ‘Road To Bandung Photography Triennale’.

Seniman-seniman yang menyumbangkan karya pada pameran ini antara lain Anh-Thuy Nguyen (Amerika), Iswanto Soerjanto (Indonesia), Lavender Chang (Singapore), Michael Binuko (Indonesia), Naraphat Sakarthornsap (Thailand), Piyatat Hemmatat (Thailand), Sabrina Asche (Jerman), Shiho Yoshida (Jepang), Sophie Chalk (Amerika), dan Yixiu Guo (Singapore).

Ketika melihat ke belakang, teknik fotografi yang saat ini dipakai dinilai adiluhung dan terus berubah. Direktur Program Bandung Photography Triennale, Deden Hendan Durahman mengaku ingin mewadahi perkembangan-perkembangan tersebut.

“Kami berharap mampu untuk mewadahi setiap tiga tahun. Tahun depan itu ‘Triennale’ yang pertama, kita pemanasan dulu meskipun ini cukup besar karena di tiga tempat sekaligus. Untungnya, dari pihak Selasar Sunaryo Art Space, Kang Heru sangat baik dan mau menerima kami,” kata Deden.

Senada, Heru Hikayat selaku kurator pemangku menyampaikan, bahwa pameran fotografi adalah hal yang penting, sebab Selasar Sunaryo Art Space sendiri berfokus kepada kebudayaan visual.

“Di masa pandemi ini, merencanakan kegiatan itu luar biasa sulit, tapi kami dari awal menganggap bahwa ide ‘Triennale’ itu penting. Ada sebagian orang yang lebih suka istilah seni rupa, ada juga yang lebih suka istilah seni visual. Dua konotasi ini berbeda; seni rupa itu lebih ke seni adiluhung, sementara seni visual lebih beragam, termasuk ke fotografi,” kata Heru.

“Untuk kami, karena Selasar itu fokusnya lebih luas, yaitu kebudayaan visual, nah, fotografi itu termasuk unsur penting dari kebudayaan visual. Maka dari itu, apabila ada pameran fotografi, menurut kami itu penting,” katanya.

Pameran ‘Road To Bandung Photography Triennale’ juga diselenggarakan di dua tempat lain yaitu Orbital Gallery dan Ruang Dini yang juga diselenggarakan dari 10 September hingga 10 Oktober 2021. (SON)

 

Penulis: River Rais & Wira Aditama
Editor: Agia Aprilian

Welcome! Login in to your account

Remember meLost your password?

Lost Password