Pertanyaan Rabiah Al Adawiyah Pada Pria yang Melamarnya

RISALAH INSPIRA,- Sufi perempuan masyhur, Rabiah Al Adawiyah memutuskan untuk tidak menikah semasa hidupnya. Dirinya tak ingin ada suatu apapun yang dapat menghalangi dirinya untuk beribadah kepada Allah Swt. Dalam sejarahnya, Rabiah Al Adawiyyah merupakan peletak dasar tasawuf berdasarkan cinta kepada Allah atau dikenal juga dengan konsep Mahabbah.

Terdapat kisah menarik mengenai seorang pria yang mengagumi Rabiah. Beliau adalah Hasan Al Basri, beliau merupakan ulama besar Iraq pada zaman dinasti Umayyah. Seperti dikutip dalam Kitab Syarah ‘Uqudullijain karya Syekh Muhammad bin Umar An-Nawawi disebutkan kisah mengenai pertanyaan yang diberikan kepada pria yang melamarnya.

Suatu ketika Hasan Al-Bashri bersama sahabat lainnya mendatangi Rabi’ah dan meminta izin untuk diperkenankan masuk. Mereka berkumpul seperti dalam sebuah majelis sufi mencoba mendesak Rabi’ah untuk memilih salah seorang di antara mereka untuk dijadikan suami.

Hasan lalu membuka pembicaraan “Wahai Rabiah, nikah itu merupakan Sunah Rasulullah untuk itu silahkan engkau memilih salah seorang di antara kami sebagai calon suamimu”. Lalu Rabi’ah berkata kepada Hasan untuk menjawab empat pertanyaan yang beliau ajukan kepada mereka, apabila ada yang bisa menjawab maka Rabi’ah akan menjadikan salah seorang di antara mereka suaminya. Lalu Hasan berkata “Katakanlah, dan jika Allah mengijinkan aku akan menjawab semua pertanyaanmu”.

Rabiah lalu melontarkan pertanyaan pertama: “Bagaimana menurutmu, seandainya aku meninggal, apakah aku akan meninggalkan dunia ini sebagai orang Islam atau sebagai orang kafir?”

Hasan Al-Bashri menjawab, “Masalah kematian berikut tanda-tandanya adalah masalah gaib bagi makhluk.”

Rabiah lalu melontarkan pertanyaan kedua: “Bagaimana menurutmu, seandainya aku sudah dimasukkan ke liang kubur, lalu Malaikat Munkar dan Nakir bertanya kepadaku, apakah aku mampu menjawab pertanyaan mereka atau tidak?”

Hasan Al-Bashri menjawab, “Mengetahui mampu-tidaknya seseorang untuk menjawab pertanyaan kedua malaikat itu adalah juga sama seperti masalah gaib yang ditanyakan sebelumnya.”

Kemudian, Rabi’ah menyampaikan pertanyaan ketiga, “Jika manusia dikumpulkan di tempat perhentiannya pada Hari Kiamat, sementara buku-buku catatan berterbangan, lalu sebagian manusia ada yang diberikan buku amalnya dari sebelah kanan atau dari arah depan yang menandakan bahwa orang itu adalah orang Mukmin yang taat. Sedangkan, sebagian lagi ada yang diberikan dari sebelah kiri atau dari arah belakang yang menandakan bahwa dia adalah orang kafir. Menurutmu, apakah aku akan diberikan buku catatan amal dari sebelah kananku atau dari sebelah kiriku?”

Hasan Al-Bashri menjawab, “Mengetahui pemberian buku amal perbuatan juga masalah gaib.”

Rabi’ah kemudian mengajukan pertanyaan keempat, “Jika sekelompok manusia di Hari Kiamat dipanggil untuk masuk ke dalam surga dan sekelompok lain masuk ke dalam neraka, apakah aku akan termasuk penghuni surga ataukah penghuni neraka?”

Hasan Al-Bashri juga menjawab: “Mengetahui apakah engkau termasuk penghuni surga atau penghuni neraka adalah juga sebuah masalah gaib.”

Setelah mendengar jawaban Hasan Al-Bashri, Rabi’ah pun berkata, “Apakah seseorang yang gelisah terhadap keempat pertanyaan seperti itu membutuhkan suami atau mau menghabiskan waktunya hanya untuk memilih suami?”

Para ulama itu pun meneteskan air mata dan keluar dari rumah Rabi’ah dengan penuh penyesalan. Beberapa kali beliau mencoba menjawab lamaran-lamaran yang datang kepadanya dengan cara-cara yang lebih halus, dengan merendahkan diri bahwa dirinya yang dalam keadaan prihatin, tak memungkinkan baginya untuk berumah tangga. (GIN)

1 Comment

  • Auli Zelalina Reply

    June 4, 2021 at 8:22 am

    Subhanallah

Leave a Comment

Welcome! Login in to your account

Remember meLost your password?

Lost Password