Pakar Sebut Masyarakat Tak Perlu Panik Soal BOR yang Meningkat

(Foto: Tri/beritainspira.com)

BANDUNG INSPIRA,- Pakar Ilmu Kesehatan Masyarakat Universitas Padjadjaran (Unpad), Dr. Irvan Afriandi mengimbau masyarakat agar tidak panik oleh informasi mengenai tingkat keterisian tempat tidur (Bed Occupancy Rate/BOR) rumah sakit di Kota Bandung yang mendekati angka 80 persen. Sebab, tidak semua yang mendapatkan perawatan di Rumah Sakit (RS) Kota Bandung adalah warga Bandung.

Dia mengatakan, ada beberapa kemungkinan mengapa hal tersebut terjadi. Di antaranya adalah karena kedekatan geografis seperti penduduk yang berada di daerah perbatasan.

Kemungkinan lainnya adalah karena keterisian tempat perawatan pada fasilitas kesehatan di wilayah domisilinya yang telah mencapai batas maksimum kapasitasnya.

“Oleh karenanya, wajar ketika banyak kasus yang memerlukan perawatan rumah sakit dari wilayah di luar Kota Bandung akhirnya dirujuk ke berbagai rumah sakit di Kota Bandung,” jelas Irvan, Kamis (10/6).

Menurut Irvan, hal tersebut menunjukkan bahwa Kota Bandung berperanan penting menyangga perawatan kasus-kasus Covid-19 di wilayah aglomerasi Bandung Raya. Dari situasi tersebut, seyogyanya Kota Bandung mendapat insentif atau dukungan dalam penanganan perawatan kasus-kasus di rumah sakit.

Selain itu, transmisi atau penularan Covid-19 terjadi akibat interaksi antar manusia dalam jarak dekat yang tidak dilindungi oleh perilaku penggunaan masker dan mencuci tangan secara efektif.

“Proses transmisi Covid-19 tidak mengenal batas administrasi kewilayahan atau pun kependudukan seseorang. Warga suatu kota ataupun kabupaten dapat tertular dan atau menularkan penduduk kota ataupun kabupaten lainnya, sepanjang terjadi interaksi antar penduduk yang tidak mematuhi protokol pencegahan penularan Covid-19,” jelasnya.

Irvan mengatakan, Kota Bandung tak bisa dinilai gagal mengendalikan penularan sehingga banyak yang dirawat di rumah sakit. Menurutnya perlu ada kajian mengenai hal tersebut.

“Jika kemudian secara keseluruhan BOR tempat perawatan di wilayan aglomerasi Bandung Raya terus meningkat, maka perlu diantisipasi dengan koordinasi antar wilayah aglomerasi,” katanya.

Di samping itu, lanjut dia, satu tahun lebih masa pandemi Covid-19 ini memberikan banyak pelajaran bagi penanganan kasus dan pencegahan penularannya. Pola dan kualitas penanggulangan dan pengendaliannya mengalami kecenderungan perbaikan.

Dalam hal penyediaan tempat perawatan di rumah sakit misalnya, saat ini fleksibilitas untuk penambahannya telah bisa terantisipasi sehingga dapat meningkat hingga 20 persen dari kapasitas yang ada saat ini.

Strategi yang dilakukan adalah dengan mengubah peruntukan tempat perawatan pada suatu rumah sakit, dari yang sebelumnya diperuntukkan untuk pasien non-Covid-19 menjadi digunakan untuk penderita Covid-19.

Dia mengatakan, strategi lainnya adalah dengan menambah fasilitas perawatan khusus bagi penderita Covid-19 yang termasuk kasus ringan dan sedang pada tempat yang sebelumnya tidak merawat pasien Covid-19.

“Sesungguhnya, dengan adanya sebagian masyarakat yang telah memperoleh vaksinasi, maka tingkat keparahan dari kasus-kasus yang terinfeksi cenderung lebih rendah sehingga kebutuhan perawatan di rumah sakit pun bisa jadi lebih rendah,” kata Lektor di Departemen Ilmu Kesehatan Masyarakat Fakultas Kedokteran Unpad ini.

Agar hal ini tidak membuat semua pihak terlena baik masyarakat atau pemerintah, serta harus sama-sama menjaga tetap waspada dan melakukan sejumlah langkah penanganan, sebagaimana dianjurkan, yang terdiri atas 3T, 3M, dan vaksinasi.

Dia berharap pemerintahan baik di daerah, provinsi, atau di tingkat pemerintah pusat diharapkan mampu mengkoordinasikan dan mengakselerasi peningkatan kinerja pelayanan kesehatan dan pemantauan agar lebih merata.

“Sebab kapasitas Kota Bandung untuk mengakomodasi perawatan kasus-kasus yang berasal dari luar wilayah tentu ada batasnya. Namun jika kabupaten dan kota yang berdekatan juga memelihara semangat dan langkah kesiap-siagaannya secara terkoordinasi, maka masyarakat di wilayah aglomerasi Bandung Raya pun akan terlindungi secara optimal,” katanya.

Irvan mengatakan, pendekatan penanganan dan penanggulangan Covid-19 ini terdiri atas 3 hal. Pertama, pemeriksaan, penanganan dan pelacakan (testing, treatment, tracing) yang porsi terbesarnya dilakukan oleh pemerintah.

Kedua, perilaku protektif berupa penggunaan masker secara benar, mencuci tangan yang efektif, menjaga jarak, menghindari kerumunan dan membatasi mobilitas dan interaksi (5M), yang seharusnya merupakan gerakan aktif partisipatif dari masyarakat.

Ketiga, vaksinasi dan peningkatan imunitas masyarakat. Semuanya bertujuan agar terjadi perlambatan laju transmisi/penularan dan menurunkan angka kesakitan serta kematian akibat Covid-19.

Irvan mengimbau masyarakat untuk mulai mengubah sudut pandangnya dengan menguatkan bahwa untuk saat ini keberadaan Covid-19 merupakan suatu keniscayaan yang membawa masyarakat dan pemerintah beradaptasi. Sehingga suatu saat Covid-19 tidak lagi menjadi momok pandemi, namun lebih bersifat endemi.

Untuk itu diperlukan perubahan paradigma penanganan Covid-19 dari yang semula lebih cenderung reaktif, menjadi antisipatif. Dari yang sebelumnya stigmatis menjadi suportif, dari terfragmentasi menjadi komprehensif, dan dari sektoral menjadi multisektoral.

Selanjutnya, dari segi pemantauan, lanjut Irvan, perlu pula terjadi pergeseran dari yang tadinya melihat pada jumlah kasus dan kematian menjadifokus pada pemantauan kinerja (proses dan input) kepada sistem pelayanan kesehatan dan sistem surveilans Covid-19 dan penyakit-penyakit yang berpotensi mewabah.

Dalam kaitan tersebut, penggunaan indikator strategis berupa kinerja pemeriksaan, pelacakan, dan penanganan kasus mendesak untuk diimplementasikan secara akuntabel.

“Hal tersebut diperlukan agar pada gilirannya kepanikan dan keyakinan masyarakat dapat terkelola dengan baik sehingga masyarakat dapat menjalankan aktivitas ekonomi, sosial, dan budayanya secara aman dan produktif,” katanya. (TRI/ADT)

0 Comments

    Leave a Comment

    Welcome! Login in to your account

    Remember meLost your password?

    Lost Password