Menyoal Narsisme: Sebuah Topeng di Balik Kepercayaan Diri

narsis-pixabay
Ilustrasi: Pixabay

BANDUNG INSPIRA — Narsisis. Ketika mendengar kata ini, kita mungkin langsung terbayang pada orang yang hobi berfoto selfie di media sosial, atau orang yang terlalu senang membicarakan diri mereka sendiri, bahkan tanpa ditanya oleh calon mertuanya.

Namun jika merujuk pada psikiater, seorang narsisis sejati sebenarnya punya karakteristik yang lebih daripada itu.

Seorang narsisis pada dasarnya adalah orang yang didiagnosis dengan gangguan kepribadian narsistik (GKN). Mengutip ZME Science, ciri-ciri kasus narsisme antara lain keegoisan mengorbankan orang lain, selalu ingin cari muka, dan kurangnya menjaga perasaan orang lain.

Namun di balik topeng kepercayaan diri yang ekstrem ini, terdapat harga diri yang rapuh dan rentan terhadap kritik sekecil apa pun.

Lebih rinci lagi, menurut buku Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders (DSM-5)—buku yang umum dijadikan pegangan oleh pakar kesehatan mental di Amerika Serikat—setidaknya ada sembilan kriteria yang mengindikasikan seseorang mengidap GKN. Berikut daftarnya:

1. Mementingkan diri sendiri secara berlebihan.

2. Kelewat asyik berfantasi soal kesuksesan, power, kecantikan, atau cinta yang ideal.

3. Terlalu yakin bahwa dia istimewa dan unik, dan hanya dapat dipahami oleh orang atau kelompok tertentu.

4. Rasa berlebih ingin dikagumi.

5. Selalu merasa punya hak.

6. Perilaku eksploitatif antar pribadi.

7. Kurangnya empati.

8. Iri pada orang lain atau merasa bahwa orang lain iri padanya.

9. Menunjukkan perilaku atau sikap arogan dan angkuh.

Sebagai alternatif, buku DSM-5 juga menunjukkan bahwa GKN ditandai dengan gangguan lebih besar dalam fungsi kepribadian, yang termanifestasi oleh kesulitan karakteristik di dua atau lebih dari empat area berikut:

◉ Identitas
◉ Pengarahan diri sendiri
◉ Empati
◉ Keintiman

Siapa Sebenarnya Si Narsis? Tantangan Mendiagnosa GKN

Seperti banyak gangguan kesehatan mental lainnya, gangguan kepribadian narsistik mempunyai jenis yang sangat variatif, dan disertai dengan berbagai tingkat keparahan.

Dalam sebuah ulasan yang diterbitkan di American Journal of Psychiatry, seorang psikolog menulis bahwa DSM-5 gagal untuk mengatasi beberapa gejala psikologis GKN, seperti harga diri yang rapuh, sikap inferior, kehampaan, dan kebosanan.

Dengan kata lain, ungkapan narsisme tidak hanya berlaku bagi mereka yang suka meninggi, tapi juga termasuk untuk mereka yang sering merendah.

“Individu dengan gangguan kepribadian narsistik bisa saja orangnya sombong atau membenci diri sendiri, bisa ekstrovert maupun introvert, bisa komisaris atau office boy, bisa juga seorang panutan masyarakat maupun yang cenderung antisosial,” jelas si peneliti.

Meski begitu, hal utama yang jadi ciri seseorang mengidap GKN adalah perasaan rapuh yang bertolak dari kenyataan, bukan yang fleksibel dan berbasis kenyataan. Perasaan diri yang rapuh ini didasarkan pada pandangan terhadap diri sendiri yang dianggap luar biasa.

Individu GKN sangat bergantung pada timbal balik dan validasi eksternal untuk mendukung tidak hanya harga diri yang positif, tetapi juga definisi diri.

Ini menandakan bahwa individu GKN dapat menampilkan strategi ganda ketika berhubungan dengan orang lain.

Di satu sisi, mereka memiliki kebutuhan yang sangat besar agar orang lain mendukung kejatidirian mereka, terutama pada tingkat yang dangkal. Tapi di sisi lain, berhubungan dengan orang lain secara dekat dapat membuat individu GKN tersebut menghadapi kenyataan menyakitkan bahwa orang lain memiliki kualitas yang tidak mereka miliki.

Ada Berapa Banyak Orang Narsis di Luar Sana?

Meski belum jelas berapa jumlah orang yang mengalami GKN, banyak ahli percaya bahwa GKN merupakan salah satu gangguan kepribadian paling umum. Perkiraannya berkisar antara 1% hingga 5,3% dari populasi umum.

GKN sering dikaitkan dengan penyakit bawaan lainnya. Ia paling sering terjadi bersamaan dengan gangguan kepribadian seperti antisosial, histrionik, skizotip, dan perilaku pasif-agresif.

Apa Penyebabnya?

Hingga kini, para ilmuwan belum mengetahui apa penyebab sebenarnya GKN, tapi jika menilik kasus gangguan kepribadian lain, pemicunya mungkin terbilang rumit.

GKN sering dikaitkan dengan:

Lingkungan—psikolog telah mengidentifikasi hubungan antara pujian maupun kritik berlebihan di masa kanak-kanak oleh orangtua dan kecenderungannya membentuk GKN saat beranjak dewasa.

Genetika—sifat yang diwariskan.

Neurobiologi—hubungan antara otak, perilaku dan pemikiran.

Lebih jauh, GKN cenderung lebih banyak mempengaruhi laki-laki ketimbang perempuan. Tanda awal GKN sering kali dimulai saat remaja atau awal masa dewasa.

Infografis: Ardiansyah/beritainspira.com

Menyembuhkan Gangguan Kepribadian Narsistik

Orang pengidap GKN umumnya percaya bahwa tidak ada yang salah dengan mereka, maka sangat kecil kemungkinannya mereka akan mencari pengobatan. Namun, mereka mungkin cenderung meminta bantuan akibat gejala depresi atau masalah kesehatan mental lainnya yang sering menyertai GKN.

Gara-gara sikap angkuh dan defensif yang menjadi ciri gangguan kepribadian narsistik, orang dengan GKN akan cenderung menolak mengakui masalah, sehingga sulit untuk menjalani terapi dalam bentuk apa pun.

Sejauh ini, efektivitas pendekatan psikoterapi dan psikofarmakologis untuk gangguan kepribadian narsistik belum pernah diselidiki secara sistematis atau empiris.

GKN memang tidak dapat ‘disembuhkan’, namun praktik psikoterapi dapat membantu seseorang untuk:

◉ Mengelola emosi secara lebih efektif
◉ Belajar mengambil tanggung jawab atas tindakan mereka
◉ Belajar membangun hubungan yang lebih sehat dengan orang lain
◉ Membangun harga diri
◉ Menyesuaikan ekspektasi terhadap diri mereka sendiri dan orang lain
◉ Memahami dampak perilaku mereka pada orang lain

(SON)

0 Comments

    Leave a Comment

    Welcome! Login in to your account

    Remember meLost your password?

    Lost Password