Mengenang Sony Walkman: Si Portabel Favorit Kita

Foto: Catawiki

TEKNO INSPIRA,- Dulu, bahkan sebelum masa karantina dan isolasi mandiri yang berkepanjangan, sulit rasanya membayangkan hidup tanpa melibatkan peranti elektronik seperti smartphone dan tablet.

Tentu saja ada masa sebelum dan sesudah, suatu titik di mana gravitasi budaya dari kehidupan modern kita yang terus bergeser.

Di zaman sekarang, pemutar musik portabel dianggap sebagai benda yang tidak aneh. Di setiap komuter, terlebih di kota-kota besar, kita akan menemui orang dengan sepasang earphone menempel di telinga saat mereka berjalan, bersepeda, atau berkendara ke tempat tujuannya.

Jauh sebelum iPod muncul, pemutar kaset portabel Sony Walkman telah mengubah cara orang mendengar musik.

Sejarah mencatat bahwa walkman bukanlah lompatan besar di bidang teknologi. Kaset magnetik telah ada sejak 1963, ketika perusahaan elektronik Belanda bernama Philips pertama kali menciptakannya untuk digunakan oleh para sekretaris dan jurnalis.

Sony, yang pada saat itu telah menjadi ahli dalam elektronik mini membuat serangkaian perekam kaset portabel yang cukup sukses. Pengenalan kaset musik pra-rekaman di akhir 1960-an itu lantas membuka pasar baru.

Walaupun orang-orang masih memilih untuk mendengarkan piringan hitam ketimbang kaset di rumah, namun ukuran kaset yang ringan membuatnya lebih kondusif untuk stereo mobil daripada vinil atau 8-trek.

Maka pada 1 Juli 1979, Sony Corp memperkenalkan Sony Walkman TPS-L2, pemutar kaset portabel seberat 14 ons berwarna biru dan perak dengan tombol tebal, headphone, dan berbentuk kotak.

Masaku Ibuka, salah satu pendiri Sony, sering berpegian demi urusan bisnis dan mendapati dirinya menenteng-nenteng perekam kaset TC-D5 Sony yang besar dan berat untuk mendengarkan musik. Ia kemudian meminta Norio Ogha, yang saat itu menjabat wakil presiden eksekutif, untuk merancang stereo yang dioptimalkan dengan headphone.

Ogha pun mengerjakannya, sebuah pemutar musik yang ringan dan berkualitas tinggi.

“Cobalah ini. Pemutar kaset stereo yang dapat diputar sambil berjalan-jalan. Ide yang bagus, kan?” kata Ogha kepada ketua Akio Morita, dilansir dari laman Time.

Awalnya, Walkman diperkenalkan di Amerika sebagai Sound-About dan di Inggris sebagai Stowaway. Tetapi muncul nama baru tanpa hak cipta di setiap negara.

Sony akhirnya memutuskan Walkman sebagai plesetan dari Sony Pressman, perekam kaset mono yang menjadi dasar protoipe Walkman pertama.

Rilisan pertamanya di Jepang sukses besar, meski Sony memperkirakan hanya akan menjualnya sekitar 5.000 unit perbulan. Nyatanya, Walkman terjual lebih dari 50.000 hanya dalam dua bulan pertama.

Masa Kejayaan

Tahun 1980-an bisa jadi merupakan dekade Walkman. Popularitas perangkat Sony dan merek-merek lain seperti Aiwa, Panasonic, dan Toshiba ikut membantu penjualan kaset lebih banyak dari piringan hitam. Ini belum pernah terjadi sebelumnya. Kata ‘walkman’ bahkan dimasukkan dalam kamus Oxford English Dictionary pada tahun 1986.

Secara kebetulan, munculnya Walkman bertepatan dengan hype aerobik saat itu. Jutaan orang pun menggunakan perangkat ini agar membuat latihan mereka terasa menyenangkan.

Medio 1987 hingga 1997 jadi puncak popularitas Walkman. Bagaimana tidak, jumlah orang yang berjalan dan berolahraga meningkat sebanyak 30%.

Sony terus meluncurkan variasi pada temanya, menambahkan inovasi seperti penerima AM/FM, bass boss, dan auto-reverse pada model-model selanjutnya. Sony bahkan membuat Walkman bertenaga surya dan tahan air.



Menurut laman The Verge, Walkman menjadi salah satu produk Sony yang paling sukses sepanjang masa, mengubah format selama bertahun-tahun menjadi CD, Mini-Disc, MP3, dan musik streaming.

Jika ditotalkan, lebih dari 400 juta pemutar musik portabel Walkman telah terjual, yang mana 200 juta di antaranya adalah pemutar kaset.

Sony akhirnya menghentikan lini Walkman kaset pada 2010 dan terpaksa membayar “uang damai” yang cukup besar kepada penemu asli pemutar kaset portabel, Andreas Pavel. (SON)

0 Comments

    Leave a Comment

    Welcome! Login in to your account

    Remember meLost your password?

    Lost Password