Mengenal Konsep Cinta Ulama Sufi Rabiah Al Adawiyah

RISALAH INSPIRA,- “Ya Allah, kalau aku menyembah-Mu karena menghindar dari neraka-Mu, campakkan saja aku ke neraka. Kalau aku menyembah-Mu karena berharap surga, tutup pintu-Mu rapat-rapat, tapi kalau aku menyembah karena mengharap rahmat-Mu, jangan pisahkan aku dari rahmat-Mu,”

Perasaan cinta Rabiah pada Allah sebegitu kuat membelenggu hatinya, sehingga hatinya pn tak mampu untuk berpaling kepada selain Allah. Suatu ketika Rabiah pernah ditanya dan terjadilah suatu percakapan.

“Apakah Rabiah tidak mencintai Rasul?,”

“Ya, aku sangat mencintainya, tetapi cintaku kepada Pencipta membuat aku berpaling dari mencintai makhluknya,” kata Rabiah.

Selain itu, Rabiah ditanya tentang eksistensi setan dan apakah Rabiah membencinya? Ia menjawab, “Tidak, cintaku kepada Tuhan tidak meninggalkan ruang kosong sedikit pun dalam diriku untuk rasa membenci setan”.

Baginya, Allah merupakan teman sekaligus kekasihnya, sehingga ke mana saja Rabiah pergi, hanya Allah saja lah yang ada dalam hatinya.Ia mencintai Allah dengan sesungguh hati dan keimanan. Oleh karena itu, ia serng menjadikan Kekasihnya itu sebagai teman ebrcakap dalam hidup.

Mengutip laman Ponpes Nurul Jadid, proses perjalan ruhani Rabiah telah sampai padamaqam mahabbah dan makrifat setelah dirinya berhasil melewati beberapa tahapan atau maqam. Tahapan-tahapan ini ia lampaui seiring dengan perwujudan cintanya kepada Tuhan. Tappi pada tahap tertentu, cinta Rabiah pada Tuhannya seakan masih belum terpuaskan, meski hijab penyaksian telah disibakkan. Oleh, karena itu, Rabiah tak henti-hentinya memohon kepada kekasihnya itu agar ia bisa terus mencintai-Nya dan Dia pun cinta kepadanya.

“Dia mencintai mereka dan mereka mencintai-Nya” (QS Al Maidah ayat 59)

Dalam kegamangan itu, Rabiah tak putus-putusnya berdoa dan bermunajat kepada Allah. Bahkan dalam doanya itu berarap lah ia untuk tetap mencintai Allah hingga Allah memenuhi ruang hatinya.

“Tuhanku, malam telah berlalu dan siang segera menampakkan diri. Aku gelisah apakah amalanku engkau terima, hingga aku merasa bahagia. Ataukah Engkau tolak hingg aku merasa bersedih. Demi ke-Maha KuasaanMu, Inilah yang akan kulakukan. Sellama engkau berikan au hayat, sekiranya Engka usir dari depan pintu-Mu, aku tidak akan pergi karena cintaku pada-Mu, telah memenuhi hatiku”

(GIN)

0 Comments

    Leave a Comment

    Welcome! Login in to your account

    Remember meLost your password?

    Lost Password