Mengenal Imam Syafi’i dan Kecerdasannya Sejak Kecil

RISALAH INSPIRA,- Imam Syafi’i atau Abu Abdullah Muhammad bin Idris As-Syafi’i Muthalib Al Quraisy lahir di Gaza pada tahun 150 H,. Beliau dikenal sebagai ulama besar yang cerdas. Keahlian ilmunya, keluhuran akhlaknya, keistiqomahan  ibadahnya dan kesantunan tutur katanya.

Imam Syafi’i banyak mengabiskan waktunya di Masjidil Haram, beliau disana terus menerus mempelajari berbagai macam ilmu agama seperti fiih, Al-Qur’an, hadist dan lainnya.

Pada usia 7 tahun, beliau sudah bisa menghafal Al-Qur’an 30 juz. Imam Syafi’i juga termasuk murid dari Imam Malik. Kemudian pada usia 10 tahun ia mampu menghafal kitab Muwatha yang disusun oleh Imam Malik.

Selain menuntut ilmu ke Mekkah, Madinah, dan Iraq, Imam  Syafi’i juga berkelana menuntut ilmu ke berbagai daerah seperti Baghdad, Persia, Yaman, hingga ke Mesir.

Mazhab Syafi’i juga dikenal dengan pemahaman Qaulul-Qadim dan Qaulul Jadid. Selain itu Imam  Syafi’i juga meninggalkan karya-karya tulisnyayang begitu banyak. Salah satu yang fenomenal adalah kitab Al Jadid terdiri dari 20 jilid.

Riwayat yang menunjukan Imam Syafi’i tersirat dalam beberapa riwayat yang sangat disanjung oleh para ulama lain.

Dari Ubaid bi Muhammad bin  Khalaf Al-Bazzar, berkata “Ketika Abu Tsaur ditanya tentang siapa yang lebih pandai antara Imam Asy-Syafi’i dan Muhammad bin Al-Hasan, maka ia menjawab bahwa Imam Asy-Syafi’i lebih pandai dari pada Muhammad, Abu Yusuf, Abu Hanifah, Hammad, Ibrahim, Al-Qamah dan Al-Aswad.”

Harmalah bin Yahya berkata “Aku telah mendengar Imam Asy-Syafi’i ditanya tentang seorang suami yang berkata kepada isterinya yang pada saat itu dimulutnya terdapat sebiji kurma, ‘Jika kamu makan korma itu, maka kamu aku talak (cerai), dan apabila kamu memuntahkannya, maka kamu juga aku talak (cerai),’ maka Imam Syafi’i menjawab, ‘Makan separuh dan muntahkanlah separuhnya.”

Kemudian Al-Muzni juga berkata “Ketika Imam Asy-Syafi’i ditanya tentang burung unta yang menelan mutiara milik orang lain, maka dia menjawab, ‘Aku tidak menyuruhnya untuk menelannya. Kalau pemilik mutiara ingin mengambil mutiara itu, maka sembelih dan keluarkan mutiara itu dari perutnya, lalu dia harus menebus burung unta tersebut dengan harga antara burung itu hidup dan sudah disembelih.’”

Ma’mar bin Syu’aib berkata, “Aku mendengar Amirul Mukminin Al-Makmun bertanya kepada Muhammad bin Idris Asy-Syafi’i, ia berkata, ‘Wahai Muhammad, apa illat-nya Allah menciptakan lalat?’”

Mendengar pernyataan itupun Imam Asy-Syafi’i terdiam sesaat, lalu dia menjawab ‘Wahai Amirul Mukminin, lalat itu diciptakan untuk menghinakan para raja.’

Seketika, Al-Makmun tertawa terbahak-bahak. Lalu ia berkata, ‘Wahai Muhammad, aku telah melihat lalat jatuh ketika ada di pipiku.’ Sehingga Imam Asy-Syafi’i membalasnya dengan berkata, ‘Benar tuanku. Sebenarnya ketika tuanku menanyakan hal tersebut kepadaku, aku tidak mempunyai jawabannya. Ketika aku melihat lalat itu jatuh tanpa ada suatu sebab dari pipi tuanku tersebut, maka aku baru menemukan jawabannya.’”

Lalu Al-Makmun berkata, ‘Wahai Muhammad, segalanya adalah kekuasaan Allah.’.

Itulah bukti kecerdasan dari Imam Syafi’i yang telah menuntut ilmu sejakdini dan menghasilkan berbagai keilmuan dalam dunia Islam yang sangat berpengaruh dalam mempelajari ajaran-ajaran keislaman. (RISAL)

0 Comments

    Leave a Comment

    Welcome! Login in to your account

    Remember meLost your password?

    Lost Password