Mengapa Burung Bangkai Tidak Sakit Perut Setelah Makan Bangkai?

SAINS INSPIRA,- Bayangkan jika kita memiliki kekuatan super yang membuat kita tidak bisa sakit. Musuh bebuyutan sepanjang masa kita—virus, bakteri, dan parasit Bumi—tidak akan berdaya melawan perlindungan tubuh kita.

Itulah yang dialami si unggas super: burung pemakan bangkai.

Burung bangkai atau burung nasar sering memakan hewan mati, dan seringkali daging hewan yang membusuk. Mereka akan membersihkan sisa makanan dari pemangsa lain, atau memakan hewan yang mati karena sakit. Atau mereka memakan mangsa lain yang berusia tua, yang mungkin tidak ingin dimakan oleh pemangsa lain. Tak heran burung ini diberi julukan “si pengumpul sampah”.

Bagi burung nasar, bakteri seperti Anthrax (beberapa negara mengembangkannya dan terkadang menggunakannya sebagai senjata biologis), penyakit pes (atau Wabah Hitam yang melanda Eropa pada abad pertengahan), atau virus rabies, yang semuanya dapat menyebabkan penyakit parah pada manusia dan hewan, bukanlah sebuah ancaman.

Jadi, bagaimana ‘pemulung terbang’ ini menangani patogen? Mengapa mereka tidak sakit?

Baca juga: Perempuan Dikubur dengan Burung di Mulutnya, Arkeolog Bingung

Ada dua jenis burung bangkai: Burung bangkai dunia lama dan burung bangkai dunia baru. Meskipun keduanya memakan daging busuk, mereka memiliki nama yang berbeda karena tidak ada hubungan keluarga.

Burung bangkai dunia lama, seperti cinereous dan burung bangkai berjanggut, adalah sepupu dari burung pemangsa seperti elang dan rajawali. Burung bangkai dunia baru, seperti burung bangkai hitam dan burung bangkai kalkun, berkerabat dengan burung air seperti bangau.

Meskipun keluarga mereka berbeda, mereka berdua berevolusi agar terlihat serupa dan memiliki kebiasaan makan yang serupa. Ketika ini terjadi di alam, itu disebut evolusi konvergen.

Jadi, meskipun kita bisa menyederhanakan banyak hal dengan menggabungkan burung bangkai ke dalam satu kelompok berdasarkan pola makan dan penampilannya, secara ilmiah, burung bangkai sering dipelajari dengan mempertimbangkan silsilah keluarga evolusionernya.

Vulture.

Sistem Pencernaan Burung Bangkai

Perut tidak hanya blender yang terbuat dari otot saja, tetapi juga blender dengan senjata anti-patogennya: asam lambung. Makanan yang biasa kita makan, baik dimasak atau tidak dimasak, memiliki beberapa mikroba di dalamnya. Asam lambung adalah garda pertama yang memusnahkan penyusup ini. Mereka yang berhasil melewati asam lambung (asam lambung manusia adalah 2 pada skala pH) dapat menyebabkan penyakit.

Perut burung pemakan bangkai adalah sistem yang kokoh. Tidak ada makhluk di bumi yang mengalahkannya.

Baca juga: Mumi Burung Beo Ditemukan di Amerika Selatan

Burung bangkai berjanggut memiliki pH perut 0,7. Sangat asam, bahkan mereka bisa sampai mencerna tulang. Sangat sedikit hewan yang dapat mencerna tulang karena protein yang membentuk tulang sulit untuk diurai oleh enzim. Berdasarkan kemampuan itulah orang berasumsi bahwa burung nasar lain mungkin memiliki tingkat keasaman perut yang sama.

Faktanya, asam lambung burung nasar sangat kuat sehingga bisa melarutkan peluru timah yang biasa digunakan pemburu binatang. Meskipun burung nasar dapat mentolerir ancaman biologis, tubuhnya tidak dapat bertahan dari keracunan timbal, jadi memakan peluru timah bisa berakhir dengan keracunan timbal pada burung.

Sitem Imun Burung Bangkai

Namun, perut yang korosif tidak menjelaskan ketahanan burung bangkai terhadap patogen. Karena bakteri jahat apa pun yang berhasil bertahan hidup dalam perut burung nasar akan berhadapan dengan sistem kekebalan burung nasar.

Sebuah studi yang diterbitkan dalam jurnal Genome Biology menemukan bahwa gen burung bangkai cinereous berbeda dari burung pemangsa terkait dalam hal sekresi asam, sistem kekebalan, dan pernapasan. Ini menunjukkan bahwa evolusi mungkin telah mendorong burung bangkai untuk mengembangkan sistem yang dapat menangani lebih baik dengan beban patogen yang tinggi.

Tidak ada yang tahu mekanisme pasti bagaimana sistem kekebalan burung bangkai membunuh patogen. Akan tetapi para peneliti berharap bahwa mempelajari sistem kekebalan burung bangkai dan para ‘pemulung terbang’ lainnya dapat membantu memahami bagaimana sistem kekebalan tubuh kita sendiri menangani patogen, dan mungkin memunculkan pengobatan baru. (SON)

Welcome! Login in to your account

Remember meLost your password?

Lost Password