Malangnya Nasib Perempuan di Tengah Pandemi COVID-19

BANDUNG INSPIRA,- Pandemi COVID-19 yang kini melanda masyarakat dunia -termasuk Indonesia, tak hanya menimbulkan dampak pada sektor kesehatan tapi juga sosio-ekonomi terutama bagi kaum perempuan sebagai kelompok rentan. Masalah-masalah ini terhitung mulai sejak pandemi bermula atau sejak diputuskannya Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) pertengahan Maret 2020 lalu.

Sebagai kelompok rentan, perempuan mengalami berbagai masalah di antaranya; beban ganda, kehilangan mata pencaharian, perlakuan diskriminatif serta mengalami tindakan kekerasan, baik kekerasan fisik maupun verbal, dan psikis.

Mengutip CATAHU Komnas Perempuan 2020, pandemi ini telah memberikan efek domino bagi perempuan, mulai dari hilangnya mata pencaharian perempuan yang bekerja pada sektor informal, dimana sekitar 61,37 persen perempuan Indonesia bekerja pada sektor informal, meningkatnya angka kekerasan terhadap perempuan, hingga meningkatnya beban pekerjaan domestik bagi perempuan pada masa wabah COVID-19.

Selain itu, kebijakan pembatasan sosial yang termasuk bekerja dan bersekolah dari rumah, juga membuat perempuan lebih rentan stres karena menambah beban pekerjaan domestik yang selama ini dilekatkan kepada mereka.

Adapun temuan Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Republik Indonesia (KemenPPPA) dalam Laporan “Menilai Dampak COVID-19 terhadap Gender dan pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan di Indonesia”, yakni:

  1. Banyak perempuan di Indonesia yang bergantung dari usaha keluarga, tetapi 82% di antaranya mengalami penurunan sumber pendapatan. Meskipun 80% laki-laki juga mengalami penurunan, mereka mendapatkan keuntungan lebih banyak dari sumber pendapatan.
  2. Sejak pandemi, sebanyak 36% perempuan pekerja informal harus mengurangi waktu kerja berbayar mereka dibandingkan laki-laki yang hanya 30% mengalaminya.
  3. Pembatasan sosial telah membuat 69% perempuan dan 61% laki-laki menghabiskan lebih banyak waktu untuk mengerjakan pekerjaan rumah tangga. Angka tersebut menunjukkan perempuan memikul beban terberat, mengingat sebanyak 61% perempuan juga menghabiskan lebih banyak waktu untuk mengasuh dan mendampingi anak dibandingkan dengan laki-laki yang hanya 48%.
  4. Pandemi Covid-19 telah mempengaruhi kesehatan mental dan emosional perempuan. Hal ini disebabkan karena 57% perempuan mengalami peningkatan stres dan kecemasan akibat bertambahnya beban pekerjaan rumah tangga dan pengasuhan, kehilangan pekerjaan dan pendapatan, serta mengalami kekerasan berbasis gender. Sedangkan jumlah laki-laki yang mengalami permasalahan tersebut yaitu 48%.

Melansir laman baktinews, perempuan di bidang kesehatan pun mengalami perlakuan yang diskriminatif. Berdasarkan data yang dipaparkan oleh WHO, 70 persen pekerja sektor sosial kesehatan merupakan perempuan, dan sebagian besar dari mereka berprofesi sebagai perawat dan bidan. Sedangkan di Indonesia sendiri 74 persen pekerja sektor kesehatan adalah perempuan. Artinya, risiko kaum perempuan terpapar COVID-29 sangat tinggi.

Namun, dalam kondisi budaya patriarki ini, risiko dan angka partisipasi perempuan pada bidang kesehatan ini tidak seimbang dengan pendapatan yang diterima. Dalam laporan WHO tahun 2019, pendapatan perempuan rata-rata 28 persen lebih rendah dibanding laki-laki dan sulitnya untuk diangkat menjadi pegawai tetap.

Pada wilayah privat, perempuan dilaporkan sebagai korban kasus Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT). Pusat Pelayanan Terpadu Perempuan dan Anak (P2TP2A) mencatat kenaikan kasus KDRT sebesar 75 persen semenjak pandemi. Perempuan rentan menjadi target kekerasan dalam rumah tangga karena persoalan masalah ekonomi.

Bergeser dalam kehidupan digital, kasus Kekerasan Berbasis Gender Siber (KBGS) juga mengalami lonjakan kasus yang tercatat signifikan selama pandemi. Masih dalam CATAHU 2020, Komnas Perempuan menyebutkan terdapat kenaikan 348 persen di mmasa pandemi. Ancaman penyebaran materi bermuatan seksual untuk melecehkan/menyakiti korban merupakan dua jenis KBGS yang ppalig banyak dicatat, baikoleh mantan pacar atau akun anonim. Peningkatan ini dkarenakan intensitas penggunaan internet di masa pademi.

Sementara itu, kasus perkawinan anakpun meningkat tajam hingga tiga kali lipat. Hal ini disebabkan intensitas penggunaan gawai di kalangan remaja dan persoalan ekonomi keluarga. Perkawinan anak ini tentu akan banyak merugikan kaum perempuan yang rentan menjadi korban KDRT, menanggung beban reproduksi, bahkan kematian karna kehamilan

Dalam menghadapi persoalan ini, Komnas Perempuan mengharapkan perhatian negara tentu melewati para pemegang wewenang seperti DPR RI untuk mengesahkan RUU PKS dan RUU PRT, Presiden RI, Kementrian, Kepolisian, Mahkamah Agung, dan sebagainya. Selain itu, menaruh juga harapan pada lembaga-lembaga baik struktural maupun non-strukrural dalam menghadapi masalah yang dihadapi perempuan sebagai manusia sebagai warga negara.

Disamping itu, apa yang harus dilakukan sebagai masyarakat sadar? jawabannya, tentu dengan mengedukasi diri agar dapat mengampanyekan berbagai problem yang tengah dialami perempuan serta dapat menghadapi problem tersebut jika terjadi dekat dalam kehidupan kita. (GIN)

0 Comments

    Leave a Comment

    Welcome! Login in to your account

    Remember meLost your password?

    Lost Password