Menutup Celah “Lubang Tikus” Peredaran Narkoba

Ilustrasi: Edqart
KIBARKAN BENDERA PERANG NARKOBA
JANGAN HANYA SEBATAS KAMPANYE SAJA

Laporan khusus oleh: Tim Redaksi


BANDUNG INSPIRA,- Aparat penegak hukum saat ini tengah sibuk memberantas peredaran narkoba di Indonesia. Pintu masuk peredaran narkoba ditutup hingga ke lubang kecil sekalipun. Tangkapan besar bak ‘ikan tuna’ berhasil dijegal bersama barang bukti yang disita dan dimusnahkan hingga berton-ton jumlahnya.

Kasus teranyar melihat dari keberhasilan dari Polda Metro Jaya, yang menggagalkan peredaran narkoba dengan jumlah yang cukup fantastis. 1,129 ton narkotika jenis sabu berhasil disita oleh mereka. Petugas mengobrak-abrik para sindikat pengedar narkoba jaringan dari Timur Tengah-Indonesia.

“Jajaran Polda Metro Jaya, Kapolda Metro Jaya, Dir Narkoba dan jajarannya serta Polres Jakarta Pusat kali ini telah mampu mengungkap transaksi narkoba jaringan Timur Tengah,” begitu kata Kapolri Jenderal Polisi Listyo Sigit Prabowo dalam konferensi pers di Mapolda Metro Jaya, di Jakarta pada Senin (14/6) lalu.

Usut punya usut, ternyata peredaran narkoba itu dikendalikan dari dalam Lapas Cilegon, Banten.

Jaringan Timur Tengah yang kali ini mereka bekerjasama dengan warga negara Indonesia maupun asing yang menjadi narapidana lapas di Cilegon,” ungkap Kapolri.

Berkaca dari kasus tersebut ternyata ancaman bahaya narkoba masih besar untuk Indonesia. Secara logika, peredaran yang besar maka ada jumlah permintaan konsumen yang besar pula.

Api peperangan terhadap para pengedar barang haram itu tidak pernah padam, aparat penegak hukum tak mengenal kompromi terhadap sesuatu yang bisa mengancam generasi masa depan anak bangsa.

Tak cukup sampai di situ, sebanyak 15 ton ganja dari dua hektar ladang ganja yang terletak di kaki Gunung Seulawah, Aceh Besar, Provinsi Aceh dimusnahkan Badan Narkotika Nasional (BNN) RI.

Tim pemusnah harus berjuang untuk sampai ke TKP dengan menempuh perjalanan kaki selama satu jam, ditambah kondisi jalan dengan tanjakan dan turunan terjal harus mereka lalui. Lokasinya pun terpisah sehingga menyulitkan petugas. Lokasi ladang ganja berada di kawasan hutan Lamteuba, Gampong Pulo, Kecamatan Seulimum, Kabupaten Aceh Besar.

Kepala BNN RI, Komjen Pol Petrus Reinhard Golose, mengatakan pemusnahan dua hektar ladang ganja sebagai upaya pemberantasan peredaran gelap narkotika yang selama ini terus ditingkatkan.

“Ladang ganja itu berhasil ditemukan oleh tim penyelidikan Direktorat Narkotika Deputi Pemberantasan BNN seluas dua hektar yang berada di lokasi terpisah,” ucap Petrus.

Melibatkan 200 personil gabungan dari BNN, Polri dan TNI, mereka membakar habis ladang ganja yang berpotensi menyebabkan masalah bagi masyarakat.

“BNN terus meningkatkan pemberantasan peredaran gelap narkotika. Ya salah satunya hari ini pemusnahan ladang ganja di Aceh,” kata Petrus.

Dari dua hektar tanaman ganja yang ditemukan di dua titik lokasi terpisah itu diperkirakan jumlah tanaman sebanyak 20.000 batang dengan berat basah sekitar 15 ton.

“Ketinggian pohon berkisar 30 cm sampai dengan 200 cm tapi belum bisa dipanen,” kata Petrus.

Jebakan kenikmatan yang terkandung dalam barang haram ini menjadi ancaman berbahaya bagi keselamatan diri sendiri. Semua kalangan umur bisa menjadi target bagi mereka yang berniat jahat.


Kasus Anji: Penyelundupan “Barang Luar”


Peredaran narkoba bisa masuk dari mana saja, tak hanya dari dalam negeri, namun ada juga yang dikirim dari luar negeri. Entah bagaimana caranya barang haram itu masih saja bisa masuk dari luar.

Bukan saja masyarakat biasa yang terjebak dalam lubang hitam tersebut, artis papan atas tanah air pun banyak yang terbuai oleh bujuk rayu narkoba. Kasus terbaru yang membuat publik heboh, yakni salah satu musisi sekaligus produser musik ternama, Erdian Aji Prihartanto alias Anji.

Ia diciduk oleh kepolisian atas kepemilikan narkotika jenis ganja. Hal itu diungkapkan oleh Wakil Kepala Satuan Reserse Narkoba Polres Metro Jakarta Barat, AKP Arif Purnama Oktora.

Dari hasil pemeriksaan penyidik, Anji mengaku jika ganja yang ia beli dipesan melalui situs yang terdaftar di luar negeri.

“Menurut yang bersangkutan, ia dapat barang (ganja) tersebut dari situs yang berada di luar yaitu website megamarijuanastore.com,” kata Kapolres Metro Jakarta Barat Kombes Pol Ady Wibowo, sebagaimana dikutip dari Antaranews, Rabu (16/6).

Pihak kepolisian kemudian melakukan pemeriksaan di megamarijuanastore.com dan menemukan bahwa situs itu terdaftar di Amerika Serikat.

Untuk pembelian ganja di situs tersebut, para pelanggannya diharuskan memliki ID atau akun di situs tersebut. Oleh karena itu, Anji meminta kepada seseorang berinisial BRO, yang mempunyai akun di situs tersebut, untuk melakukan pembelian ganja yang kemudian akan diserahkan ke Anji.

“Dialah yang memiliki ID, yang bersangkutan tinggal memilih jenisnya. Nanti saudara BRO yang memesan dan diserahkan kepada yang bersangkutan,” ujarnya.

Berkaca dari tiga kasus terbaru yang terjadi belakangan ini, tampaknya bukan hal yang mudah untuk membersihkan Indonesia terbebas dari narkoba.


Isu Ekonomi, Undang-Undang dan Efektifitas


Lantas bagaimana kehidupan para napi agar bisa terbebas dari jeratan dunia narkoba? Bagaimana peran pemerintah dalam mengembalikan rasa percaya diri para mantan narapidan narkoba agar tidak diasingkan masyarakat?

Kerjasama dari seluruh sektor yang terlibat sangat diperlukan dalam memecahkan masalah ini. Hal paling utama untuk mencegah peredaran dan penyalahgunaan narkoba adalah melalui kelompok keluarga kecil di rumah.

Selain itu, masyarakat juga harus diberikan pemahaman dan pemberian edukasi serta sosialisasi dari lembaga terkait setiap waktu.

Menurut Pakar Hukum dari Univesritas Padjajaran (UNPAD) Yesmil Anwar, permasalahan ekonomi menjadi PR bagi semua lapisan. Menyelesaikan kasus narkoba tidak hanya dibebankan kepada sebuah lembaga saja, namun melibatkan semua aspek.

“Semua aspek terlibat dalam hal ini termasuk keluarga sebagai kelompok kecil dan pertama yang bisa mencegah anggota keluarganya untuk pencegahan,” kata Yesmil Anwar saat dihubungi beritainspira.com.

Saat ditanya mengenai efektifitas kampanye memerangi narkoba, Yesmil mengaku hal itu masih kurang efektif. Menurutnya, kampanye jangan hanya bersifat kampanye saja, namun perlu juga dilakukan secara serius, apalagi dalam menyambut peringatan hari Anti Narkoba nanti.

“Ini pertanyaan yang bagus, kampanye berperang terhadap narkoba memang masih kurang efektif karena masih terasa sebatas kampanye saja. Jadi perlu ada aksi yang memang nyata dan tidak hanya sebatas kampanye saja,” kata Yesmil.

Lebih jauh, menurutnya undang-undang tentang narkoba dan psikotropika di Indonesia masih belum berpihak kepada hak asasi manusia. Seperti contoh, pengguna narkoba yang ditangkap saat sedang sakau, seharusnya dibawa ke tempat rehabilitasi. Jika dibawa ke penjara, maka itu akan membuatnya semakin terpuruk.

Bagi para pecandu narkoba, dukungan moralitas dari keluarga dan sosial sangat penting, agar mereka yang sudah bertaubat tidak terjebak lagi ke dunia yang sama.

Lantas bagaimana kehidupan para napi agar bisa terbebas dari jeratan dunia narkoba? Bagaimana peran pemerintah dalam mengembalikan rasa percaya diri para mantan narapidan narkoba agar tidak diasingkan masyarakat? (RED)

13 Comments

Leave a Comment

Welcome! Login in to your account

Remember meLost your password?

Lost Password