Kisah Seorang Ahli Ibadah yang Masuk Neraka dan Si Pendosa yang Masuk Surga

RISALAH INSPIRA,- Ibadah pada Allah SWT merupakan kewajiban bagi setiap Muslim. Terdapat jaminan surga jika yang rajin ibadah dan mengamalkan sunnah Rasul-Nya. Sementara bagi para pendosa, sudah diganjar masuk neraka karena keburukan mereka semasa hidupnya.

Tetapi, apakah surga itu selamanya hanya untuk yang ahli ibadah dan neraka hanya untuk orang yang berbuat dosa saja? Lantas, bagaimana dengan hadits yang diriwayatkan oleh Abu Dawud dan Ahmad. Berikut kisah antara sang ahli ibadah dan seorang pendosa yang sangat mengejutkan.

Pada kalangan Bani Israil, ada dua orang bersaudara. Yang satu sangat tekun beribadah, sedangkan yang satu lagi sering berbuat dosa.

Sang pendosa tak henti-hentinya melakukan perbuatan maksiatnya, dan ahli ibadah menyaksikannya, sehingga mulutnya tak betah untuk tidak menegurnya.

“Berhentilah!” kata ahli ibadah

Teguran itu seolah hanya masuk melalui telinga kanan dan keluar lewat telinga kiri. Perbuatan dosa itu pun berlanjut dan tak luput dari pandangan ahli ibadah.

“Berhentilah!” ucapnya kembali

Pendosa pun berkata, “Tinggalkan aku bersama Tuhanku. Apakah kau diutus untuk mengawasiku?”

“Demi Allah, Allah tidak akan mengampunimu. Allah tidak akan memasukkanmu ke surga.”

Dalam sebuah Hadits shahih yang diriwayatkan Abu Dawud dan Ahmad. Di ujung Haditsnya melanjutkan, ketika keduanya meninggal dunia, keduanya dikumpulkan di hadapan Allah SWT.

Allah mengatakan kepada ahli ibadah “Apakah kau telah mengetahui tentang-Ku? Apakah kau sudah memiliki kemampuan atas apa yang ada dalam genggaman-Ku?

Drama itu pun berlanjut dengan akhir yang mengejutkan.

“Pergi dan masuklah ke surga dengan rahmat-ku,” ucap Allah kepada si pendosa.

Sedangkan, kepada ahli ibadah Allah mengatakan, “(Wahai malaikat) giringlah ia menuju neraka.”

Rasulullah SAW bersabda: “Demi Tuhan yang jiwa Abul Qasim berada di dalam genggaman kekuasaan-Nya, sesungguhnya orang tersebut (yang masuk neraka) benar-benar mengucapkan suatu kalimat yang menghancurkan dunia dan akhiratnya.”

Kisah tersebut memberikan pesan kepada kita, bahwa jangan pernah mengklaim diri sendiri sebagai hakim yang benar, karena untuk hal yang sesungguhnya itu sudah menjadi hak Allah SWT.

Maka dari itu, jangan keliru terutama menghadapi sikap yang takabur dengan cara menghakimi orang lain, apakah ia akan bahagia atau celaka di akhirat nanti.

Ada sebuah kata bijak mengatakan, “Perbuatan dosa yang membuatmu menyesal jauh lebih baik daripada beribadah yang disertai rasa ujub.”

Penulis: Hardiyanti Novi**(Magang)

Login

Welcome! Login in to your account

Remember me
Lost your password?

Lost Password