Kedudukan Orang Gila di Akhirat Kelak

orang gila di akhirat
Source: berbagai sumber

BANDUNG INSPIRA,- Orang gila atau sakit jiwa sejatinya adalah orang yang secara medis mengalami gangguan jiwa atau rohani. Akal mereka tidak berfungsi dengan baik untuk berpikir dan melakukan berbagai hal. Mereka pun diperbolehkan untuk tidak menjalankan ibadah.

Orang gila di dunia tidak dibebani tanggung jawab menjalankan ibadah atau hukum syara. Sama halnya dengan anak kecil yang belum baligh–sebab keduanya tidak/belum memiliki akal.

Karena tidak dibebani syariat, maka amal perbuatan mereka semasa gila tidak akan dipersidangkan di yaumul hisab kelak. Kecuali orang yang gilanya musiman, dia akan tetap dihitung amal perbuatannya.

Dalam hadis riwayat Ahmad, Nabi SAW bersabda:

رفع القلم عن ثلاثة عن النائم حتى يستيقظ، وعن الصبي حتى يبلغ، وعن المجنون حتى يعقل

“Catatan amal diangkat dari tiga jenis orang: orang tidur sampai dia bangun, anak kecil sampai dia baligh dan orang gila sampai dia sembuh dari gilanya.”

Bagaimana nasib orang gila di akhirat, surga atau neraka?

Para ulama memerinci penjelasannya menjadi dua. Pertama, apabila kedua orangtuanya atau salah satu dari keduanya muslim, maka dia dihukumi muslim dan nasibnya di akhirat dimasukkan surga.

Syaikh Ibnu ‘Utsaimin rahimahullah menjelaskan:

المولود، وهو متخلفٌ عقلياً حكمه حكم المجنون ليس عليه تكليف؛ فلا يحاسب يوم القيامة، ولكنه إذا كان من أبوين مسلمين أو أحدهما مسلم، فإن له حكم الوالد المسلم؛ أي أن هذا الطفل يكون مسلماً فيدخل الجنة

“Anak yang terlahir dalam keadaan cacat akal, hukumnya seperti orang gila, dia tidak dibebani syariat. Oleh karenanya, amal perbuatannya tidak akan disidang di hari kiamat nanti. Bila ia berasal dari kedua orangtua yang muslim atau salah satunya muslim, maka status dia mengikuti orangtuanya yang beragama islam. Maksudnya anak ini menjadi muslim sehingga dia dimasukkan surga.”

Berikut firman Allah ta’ala surat Ath-Thur ayat 21:

وَالَّذِينَ آمَنُوا وَاتَّبَعَتْهُمْ ذُرِّيَّتُهُمْ بِإِيمَانٍ أَلْحَقْنَا بِهِمْ ذُرِّيَّتَهُمْ وَمَا أَلَتْنَاهُمْ مِنْ عَمَلِهِمْ مِنْ شَيْءٍ

“Dan orang-orang yang beriman, beserta anak keturunan mereka yang mengikuti mereka dalam keimanan, Kami pertemukan mereka dengan anak keturunan mereka (di dalam surga), dan Kami tidak mengurangi sedikitpun pahala amal (kebajikan) mereka.”

Kedua, apabila kedua orangtuanya non-muslim, di sini para ulama berbeda pandangan. Pendapat pertama, langsung dimasukkan surga. Sebagaimana firman Allah dalam surat Al-Isra’ ayat 15:

وَمَا كُنَّا مُعَذِّبِينَ حَتَّىٰ نَبْعَثَ رَسُولًا

“Kami tidak akan mengazab suatu kaum, sampai kami mengirim utusan (Rasul) kepada mereka.”

Pada ayat di atas Allah menjelaskan bahwa, seorang tidak akan diazab sebelum ditegakkan hujah kepadanya, yakni sampainya dakwah islam kepadanya. Orang gila, tentu hujah belum tegak atasnya, karena dia tidak bisa memahami wahyu Allah yang sampai kepadanya.

Disamping itu, orang berakal saja tidak diazab karena dakwah islam belum sampakepadanya, tentu orang gila lebih pantas untuk tidak diazab, karena dia tidak memiliki akal.

Ada pun pendapat kedua, dia akan diuji.

Jika ia lulus diuji, maka surga jadi tempatnya. Bila tidak, maka dimasukkan neraka. Ujian mereka berupa api. Pendapat ini dipilih oleh Al-Baihaqi, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah, Ibnul Qoyyim dan Abu Abdilbaari.

Dari dua pendapat di atas, pendapat terakhir inilah yang tampaknya lebih kuat, karena sejalan dengan sabda Nabi Muhammad SAW (HR. Ahmad, dinilai hasan oleh Syaikh Syu’aib Al-Arnauth):

أربعة (يحتجون) يوم القيامة رجل أصم لا يسمع شيئاً ورجل أحمق ورجل هرم ورجل مات في فترة، فأما الأصم فيقول رب لقد جاء الإسلام وما أسمع شيئاً، وأما الأحمق فيقول رب لقد جاء الإسلام والصبيان يحذفوني بالبعر، وأما الهرم فيقول رب لقد جاء الإسلام وما أعقل شيئاً، وأما الذي مات في الفترة فيقول رب ما أتاني لك رسول فيأخذ مواثيقهم ليطيعنه فيرسل إليهم أن أدخلوا النار، قال: فوالذي نفس محمد بيده لو دخلوها لكانت عليهم بردا وسلاما.

“Ada empat jenis orang yang akan mengajukan banding pada hari kiamat nanti: orang tuli yang tak dapat mendengar sesuatupun, orang dungu atau gila, orang tua renta lagi pikun, dan orang yang meninggal pada zaman fatrah.

Orang yang tuli berkata,”Ya Tuhanku, Islam datang namun aku tak mendengar sesuatupun tentangnya.”

Yang dungu berkata,”Ya Tuhan, Islam datang, namun anak-anak kecil melempariku dengan kotoran hewan.”

Orang tua renda lagi pikun berkata, “Ya Tuhan, sungguh Islam telah datang, namun aku tidak mengerti/paham.”

Orang yang mati di zaman fatroh berkata Ya Tuhan, Rasul-Mu tidak mendatangiku.”

Lalu diambillah perjanjian dengan mereka untuk diuji. Kemudian akan diutus seorang utusan (Rasul) kepada mereka yang memerintahkan untuk memasuki api. Demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, seandainya mereka masuk ke dalam api tersebut, niscaya mereka akan merasakan dingin dan selamat dari adzab.”

Imam Ibnu Katsir rahimahullah lebih memilih pendapat ini dengan alasan ia berkompromi secara menyeluruh dalam persoalan.

Begitulah kajian Islam mengenai orang gila dan kedudukannya di akhirat. Dari sini dapat disimpulkan bahwa, bila seseorang gila setelah baligh, maka amal perbuatannya sebelum baligh yang akan dihisab. Sedangkan jika dia gila sebelum baligh dan masuk golongan kaum muslim, ia akan langsung masuk surga. Tapi bila dia non-muslim masih terjadi perbedaan pendapat. (SON)

Welcome! Login in to your account

Remember meLost your password?

Lost Password