Kediaman Inggit Garnasih: Pelambang Cinta dan Perjuangan Kemerdekaan (Bagian II)

INGGIT GARNASIH

PERJALANAN CINTA
DI RUMAH NOMOR 8
Laporan khusus oleh: Tim Redaksi

Bagian pertama: Kediaman Inggit Garnasih: Pelambang Cinta dan Perjuangan Kemerdekaan (Bagian 1)

Selain menyimpan banyak kenangan sejarah dan masuk dalam bangunan cagar budaya, rumah Inggit Garnasih juga menyimpan kisah luar biasa dari sang empu. Sebab di rumah inilah Inggit memulai bisnisnya dengan menjual jamu dan bedak. Bahkan, alat yang dulu digunakan untuk mengolah jamu serta bedak masih ada hingga saat ini.

Lokasi rumah yang dulu bernama Jalan Ciateul telah berganti nama menjadi Jalan Inggit Garnasih. Tentu saja, ini dilakukan sebagai bentuk penghormatan dan penghargaan kepada salah seorang perempuan yang ikut terlibat merintis kemerdekaan bangsa dan negara Indonesia.

Mungkin tak banyak yang tahu, bahwa nama ‘Inggit’ tercetus ketika dirinya menginjak usia remaja. Saat itu, Garnasih telah beranjak menjadi remaja putri yang cantik dan menarik. Kemana pun ia pergi, ia selalu menarik perhatian sekitarnya terutama para pemuda.

Bahkan, di antara mereka beredar ungkapan bahwa mendapatkan senyuman dari Garnasih ibarat mendapat uang seringgit.

Sejak saat itulah kata ‘Inggit’ diletakkan sebagai nama depannya.

Inggit Garnasih dikenal sebagai sosok ulet, bijak, lembut, serta memiliki pesona tersendiri.

Pada tahun 1900, Inggit yang saat itu berusia 12 tahun memasuki gerbang perkawinan pertamanya. Ia dipinang oleh Nata Atmadja, seorang pejabat di Kantor Residen Belanda. Namun sayang, tak lama perkawinan ini berakhir dengan perpisahan.

Inggit kemudian dilamar oleh H. Sanoesi, seorang pedagang kaya dan sukses. Ia juga seorang tokoh organisasi perjuangan Sarekat Islam Jawa Barat dan merupakan salah satu orang kepercayaan HOS Tjokroaminoto.

Bagi Inggit, perkawinan keduanya ini jadi semacam gerbang dalam memasuki dunia politik dan pergerakan kemerdekaan Indonesia. Pada waktu dilaksanakannya Kongres Sarekat Islam (1916), Inggit dipercaya untuk memimpin dapur umum, mengatur dan menerima undangan bagi seluruh peserta kongres yang datang dari seluruh tanah air.

Kehidupan rumah tangga Inggit dengan H. Sanoesi berjalan dengan mulus dan penuh kasih sayang, sampai ketika seorang pemuda bernama Soekarno datang dengan berbekal surat dari HOS Tjokroaminoto.

Dalam suratnya, pemimpin Sarekat Islam meminta keluarga H. Sanoesi untuk menerima Soekarno tinggal di rumahnya sebagai mahasiswa di HTS (sekarang ITB). Pada saat itu, Soekarno sudah ‘menikah gantung’ dengan Oetari, putri dari HOS Tjokroaminoto. Namun dalam kehidupan sehari-harinya, Soekarno hanya menggap Oetari sebagai adik, bukan istri.

Cinta merupakam anugerah sekaligus misteri, datang dan pergi tanpa kita ketahui. Hal ini pulalah yang kemudian menjadikan prahara dan badai cinta antara H. Sanoesi, Soekarno, dan Inggit.

Soekarno rupanya jatuh cinta pada Inggit Garnasih, begitu pula sebaliknya.

Namun dilandasi pengertian yang luhur dan ketulusan yang suci, badai pun seketika berlalu. Penyelesaian dan kesepakatan antara ketiga pihak ibarat sebuah mimpi dalam kenyataan. H. Sanoesi dengan segala keikhlasan hatinya menceraikan Inggit demi tujuan luhur untuk mendampingi Soekarno yang ia yakini akan memimpin dan memerdekakan bangsa Indonesia. Sedangkan Oetari oleh Soekarno diceraikan dan dikembalikan secara baik-baik pada HOS Tjokroaminoto.

Tanggal 24 Maret 1923, Inggit dan Soekarno resmi menikah.

‘Ngkus,’ itulah panggilan sayang Inggit pada Soekarno. Baginya, Soekarno adalah suami, guru, mitra perjuangan sekaligus kekasih. Bagi Soekarno, Inggit adalah istri, kekasih, mitra dalam berjuang sekaligus sosok ‘ibu’ yang memberikan air kehidupan penyejuk jiwa. Kondisi inilah yang membuat jiwa Soekarno tetap kokoh dalam menjalani suka duka selama perjuangan.

Sayang, Inggit tak berhasil menyelamatkan kemelut rumah tangganya. Ia memutuskan untuk merelakan Soekarno, suaminya yang ia kasihi dan sayangi, menikah dengan Fatma yang sudah ia anggap seperti anaknya sendiri.

Sepulangnya dari Bengkulu, Inggit kembali ke Bandung. Pada tanggal 29 Februari 1942, Inggit resmi bercerai dari Soekarno, disaksikan langsung oleh Kyai Haji Mas Mansoer. Surat cerai diserahkan oleh Soekarno pada Inggit yang diwakili oleh H. Sanoesi.

Sejak itu selesailah tugas Inggit menghantar Soekarno sebagai pemimpin dan Bapak Bangsa menuju gerbang kemerdekaan Indonesia.

Perjalanan hidup Inggit selanjutnya berlangsung dalam kesendirian dan berusaha menghidupkan dirinya dengan membuat bedak dan jamu.

“Ada dua batu yang masih diabadikan, tersimpan dalam sebuah etalase di ruang jamu dan bedak. Peninggalan itu menjadi satu nilai kuat, bahwa bu Inggit Garnasih adalah sosok yang ulet dan pekerja keras,” ungkap Jajang Ruhiat, salah seorang penjaga rumah Inggit Garnasih.

Menjelang akhir hidupnya, Inggit Garnasih menunjukkan betapa berbudi luhur dan berjiwa besar perempuan ini. Ia sangat ingin bertemu Fatmawati, setelah sering dikunjungi Hartini dan Ariyati, dua istri Soekarno lainnya.

Atas prakarsa Ali Sadikin, keinginan Inggit terpenuhi pada tanggal 7 Februari 1980. Sebuah reuni mengharukan antara seorang ibu dan sosok yang ia anggap sebagai anak. Mereka saling berpelukan. Terlontar kata maaf dari mulut Fatmawati, yang langsung diterima Inggit dengan ketulusan dan kebesaran jiwanya.

Selang tiga bulan setelah perjumpaan penuh haru itu, Inggit meninggal dunia. Inggit Garnasih, istri terkasih Sukarno yang setia mendampinginya dalam kondisi paling sulit sekalipun, wafat pada 13 April 1984, dalam usia 96 tahun. Ia dimakamkan di Pemakaman Umum PORIB, di Jalan Makam Caringin, Kopo Bandung.

Untuk mengenang jasa dan pengorbanannya dalam perjuangan menuju kemerdekaan, Pemerintah Republik Indonesia memberikan tanda jasa kepada beliau berupa: Tanda Kehormatan ‘Satyalantjana Perintis Kemerdekaan’ yang dianugerahkan pada 17 Agustus 1961 ketika beliau masih hidup. Serta ‘Bintang Mahaputera Utama’ yang diserahkan pada 10 November 1997 di Istana Negara melalui ahli waris. (TRI/SON)

 

Penulis: Tri Widiyantie
Editor: Agia Aprilian

Welcome! Login in to your account

Remember meLost your password?

Lost Password