Impak Pandemi pada Angka Perceraian: Dekat Malah Benci?

ilustrasi-perceraian

BANDUNG INSPIRA,- Pandemi Covid-19 menjadi akar masalah bagi berbagai sektor kehidupan di tahun 2020, salah satunya adalah kasus perceraian.

Menurut firma hukum di Inggris, Stewarts, setidaknya ada kenaikan 12 persen dokumen perceraian yang mereka terima selama Juli hingga Oktober tahun ini, ketimbang periode yang sama pada 2019.

Dari data tersebut, perempuan menyumbang angka kenaikan tertinggi dalam pengajuan perceraian di masa pandemi, yakni sebesar 76 persen.

“Karantina wilayah pada dasarnya seperti periode yang berkepanjangan, tapi dengan tekanan tambahan yang lebih besar,” kata Carly Kinch, salah satu pengacara Stewarts.

Kinch yakin tren ini berkaitan dengan temuan banyak penelitian tentang orang tua yang bekerja selama pandemi Covid-19, bahwa pembagian tugas rumah tangga yang tidak proporsional menjatuhkan beban pekerjaan rumah dan pengasuhan anak kepada perempuan.

Di Amerika Serikat, situs penyedia jasa pembuatan kontrak hukum menyatakan pendapatan mereka dari dokumen perceraian naik hingga 34 persen. Dalam lima bulan terakhir, 20 persen di antaranya adalah pasangan baru.

Sama halnya di Swedia, di mana penanganan Covid-19 diserahkan secara swadaya kepada warganya, tren perceraian ini juga melonjak. Menurut data statistik Pengadilan Nasional, perceraian meningkat sebesar 7 persen.

Sementara di Indonesia sendiri, menurut Dirjen Bimas Islam Komaruddin Amin, angka perceraian pada tahun 2020 mencapai 306.688 kasus.

Mayoritas pasangan suami istri yang mengajukan gugatan adalah pasangan yang baru menikah atau usia rumah tangganya masih di bawah lima tahun.

Melansir laman Bloombers, pengacara Shanghai Steve Li dari Gentle & Trust Law Firm mengatakan, “Semakin banyak waktu bersama, semakin mereka membenci satu sama lain. Orang membutuhkan ruang. Tidak hanya untuk pasangan, ini berlaku utuk semua orang.”

infografis perceraian
Infografis: Ardiansyah/beritainspira.com

Pandemi yang berdampak buruk pada rumah tangga bukanlah hal baru. Namun para pengacara, psikolog, dan akademisi mulai mendapat pemahaman yang lebih jelas tentang berbagai faktor di balik tren ini.

Para ahli hubungan menyebut dampak finansial Covid-19 berperan cukup signifikan. Mereka memprediksi peningkatan perceraian akan terus melonjak di tahun 2021. (GIN/SON)

0 Comments

    Leave a Comment

    Welcome! Login in to your account

    Remember meLost your password?

    Lost Password