Capai Kebahagiaan Hakiki dengan Mengenali Diri Sendiri Menurut Imam Al Ghazali

RISALAH INSPIRA,- Dalam memilih sebuah pilihan seperti memilih arah untuk melangkah atau menghindari kemudaratan, manusia dianjurkan untuk mengenali dirinya sendiri. Hal ini dilakukan agar manusia dapat melakukan kontrol terhadap dirinya sendiri dalam menghadapii setiap tantangan yang dihadapi dalam hidup.

Imam Al Ghazali dalam kitabnya yang berjudul Kimiya’ As-Sa’adah, dilansir dari laman islam.nu,  beliau mengatakan bahwa dengan mengenal diri (ma’rifatun nafs) adalah kunci untuk mengenal Allah SWT lebih dekat.

Logikanya cukup sederhana, hal yang paling dekat dengan diri sendiri merupakan hal yang paling dekat dengan kita. Jadi, jika kita tidak mengenal diri sendiri, bagaimana cara mengenali Allah Swt?

Dalam ungkapan salah seorang ulama sufi, Yahya bin Muadz Ar-Razi mengatakan:

ُمَنْ عَرَفَ نَفْسَهُ فَقَدْ عَرَفَ رَبَّه

“Barang siapa yang mengenal dirinya, sungguh ia telah mengenal Tuhannya.”

Mengenali diri menurut Imam Al Ghazali, tidak hanya terbatas dalam hal lahiriah saja. Tapi, beliau mengantarkan pemahaman mana yang bersifat hakiki dalam diri kita dan mana yang tidak. Seperti pertanyaan-pertanyaan: Siapa aku dan dari mana aku datang? ke mana aku akan pergi? apa tujuan kedatangan dan persinggahanku di dunia ini? di manakah kebahagiaan sejati dapat ditemukan?

Serentetan pertanyaan itu sangat kompleks. Meski kita telah mengetahui jawabannya, namun tentu memerlukan perenungan diri untuk kita resapi dalam jiwa agar dapat menjjadi praktek keseluruhan aktivitas kita.

Untuk mengenali diri sendiri, Imam al-Ghazali mengawali penjelasan dengan menyebut bahwa dalam diri manusia ada tiga jenis sifat: (1) sifat-sifat binatang (shifâtul bahâ’im), sifat-sifat setan (shifâtusy syayâthîn), sifat-sifat malaikat (shifâtul malâikah).

Selain itu, beliau juga mengatakan bahwa diri manusia layaknya sebuah kerajaan yang terbagi dala empat struktur pokok: jiwa sebagai raja, akal sebagai perdana menteri, syahwat sebagai pengumpul pajak, dan amarah sebagai polisi.

Apabila syahwat dan amarah menguasai akal/nalar maka kerajaan terancam runtuh. Karena kekuasaan tak terjalan menurut kontrol seharusnya. Syahwat yang di luar kendali akal dan jiwa akan memunculkan sifa-sifat buruk seperti rakus atau tamak. Dan amarah yang tidak terkendali akan menibulkan kebencian dan kecurigaan berlebihan sehingga muncul sikap-sikap yang membabi buta.

Akal, memiliki potensi yang spesial sperti berpikir, berimajinasi, menghafal, dan lainnya. Bila akal tidak dalam kontrol dan liar, maka akal dapat berpotensi menjadika mausia sebagai tukang tipu daya atau semacamnya. Maka dari itu, akal pun mesti berada di bawah kendali jiwa atau hati (qalb).

Untuk mencapai jiwa yang berkuasa utuh, Imam al-Ghazali menekankan adanya perjuangan keras dalam olah rohani (mujâhadah) demi proses pembersihan jiwa atau tazkiyatun nafs. Jiwa yang jernih akan memicu munculnya cahaya ilahi yang member petunjuk manusia akan jalan terbaik bagi langkah-langkahnya.

وَالَّذِينَ جَاهَدُوا فِينَا لَنَهْدِيَنَّهُمْ سُبُلَنَا

Artinya: “Dan orang-orang yang bersungguh-sungguh (muhajadah) untuk untuk (mencari keridhaan) Kami, benar-benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami.” (Al-‘Ankabut: 69)

Mengutip laman greatmind.id, seorang psikolog klinis, Ryan Howes Ph.D mengatakan jika kita telah memahami pola dan kebiasaan yang bisa membuat kita memaami diri sendiri, kita akan mantap dalam membuat pilihan-pilihan berbeda dari yang sebelumnya tak pernah kita ambil.

Sebetulnya cara untuk memahami dirinya sendiri ini cukup mudah namun tetap memerlukan keberanian dalam melontarkan pertanyaan tentang hal-hal besar pada diri sendiri seperti tentang apa yang kita inginkan sebenarnya, apa yang kita rasakan dan mengapa merasakan hal tersebut, serta pertanyaa-pertanyaan lainnya dan tentu harus siap ketika jawabannya tidak sesuai dengan yang kita inginkan.

Dengan kita mengenali diri sendiri kita akan sibuk untuk belajar tentang diri sendiri, juga berjalan dalam pilihan-pilihan yang mana untuk menggapai kebahagiaan hakiki. Selain itu, dengan kesibukan ini juga kita akan lebih menghindari untuk menilai orang lain. (GIN)

0 Comments

    Leave a Comment

    Welcome! Login in to your account

    Remember meLost your password?

    Lost Password