Bolehkah Keramas Ketika Menstruasi? Begini Pendapat Para Ulama

BANDUNG INSPIRA,- Terdapat banyak mitos yang dipercaya bagi perempuan menstruasi. Salah saunya adalah “bolehkah keramas saat haid?”, karena beberapa orang percaya bahwa keramas saat haid dapat menyebabkan penyakit. Lalu, bagaimana faktanya?

Keramas atau membersikan rambut ketika menstruasi dibolehkan secara kesehatan. Pada faktanya, tidak ada studi yang menjelaskan penyakit yang ditimbulkan karena keramas ketika menstruasi. Jadi, larangan tersebut karena dapat menimbulkan penyakit hanyalah mitos belaka.

Mengutip laman sehatq.com, mandi dan keramas ketika menstruasi akan memberikan manfaat seperti, membuat badan jadi lebih bersih, memperbaiki mood dan suasana hati, meredakan gejala-gejala menstruasi yang menyiksa, meredakan kram, merileksasi otot, mengurangi peradangan, dan mengendalikan gula darah.

Bagaimana jika kita keramas saar haid menurut pandangan Islam?

Dalam pandangan fiqih Islam terdapat perbedaan pendapat dari ulama terkait keramas saat menstruasi. Meski tidak menyebutkan secara eksplisit tentang keramas rambut, namun pendapat ini disandarkan pada menjaga rambut yang rontok ketika menstruasi.

Imam Nawawi dalam kitab Raudlatut Thalibin mengatakan sebagai berikut:

“Andaikan seseorang membasuh seluruh badannya kecuali sehelai atau beberapa helai rambut (bulu) kemudian ia mencabutnya, maka Imam Mawardi berpendapat, ‘Jika air dapat sampai ke akar helai itu, maka memadailah. Tetapi jika tidak, maka ia wajib menyampaikan air ke dasar bulu itu.’ Sedangkan fatwa Ibnu Shobagh menyebutkan, ‘Wajib membasuh bagian yang tampak saja.’ Pendapat ini lebih sahih. Sementara kitab Albayan menyebut dua pendapat. Pertama, wajib (membasuh bagian tubuh yang terlepas-pen). Kedua, tidak wajib. Karena, telah luput bagian yang wajib dibasuh. Ini sama halnya dengan orang yang berwudhu tetapi tidak membasuh kakinya, lalu diamputasi.” (Lihat Imam Nawawi, Raudlatut Thalibin wa Umdatul Muftiyin, Beirut, Darul Fikr, 2005 M/1425-1426 H, juz 1, halaman 125).

Meratakan air ketika mandi wajib adalah sebuah kewajiban. Sebab, sehelai rambut yang terlewat dapat membatalkan basuhan. Hanya saja madzhab Hanafi mengatakan bahwa basuhan tetap sah meski sehelai rambut terlewat.

“Kesembilan, andai seseorang meninggalkan sehelai rambut kepalanya yang belum tersentuh air, maka tidak sah basuhannya. Sementara riwayat dari Imam Abu Hanifah menyebutkan, basuhan semacam itu tetap sah,” (Lihat Imam Nawawi, Al-Majemuk Syarhul Muhadzdzab, Kairo, Darut Taufiqiyah, tanpa tahun, juz 2, halaman 194).

Dalam riwayat lain dari dari Aisyah RA yang sedang mengalami menstruasi ketika menstruasi saat mengikuti aji wadaa’. Kemudian Rasulullah SAW bersabda:

“Bukalah ikatan rambutmu dan sisirlah. Lalu masuklah ke dalam ihram untuk mengikuti haji..” (HR Bukhari Muslim).

Ibnu Taimiyah dalam Majmuk al-Fatawa menyatakan bahwa: “Saya tidak menemukan dalil syar’i atas makruhnya menghilangkan rambut dan memotong kuku bagi orang junub,”

Jika yang ditakutkan keramas ketika menstruasi adalah jatuh/rontoknya rambu, Aisyah saja menyisir rambutnya. Padahal bagi sebagian wanita, menyisir rambut dapat menyebabkan rontoknya rambut. Jika menyisir diperbolehkan apalagi berkeramas. Jadi keramas ketika menstruasi diperbolehkan.

Nah, dari perbedaan pendapat ulama di atas Anda dapat memilih secara mana yang lebih membuat Anda yakin. (GIN)

0 Comments

    Leave a Comment

    Welcome! Login in to your account

    Remember meLost your password?

    Lost Password