Bagaimana Jika Gerakan Mak’mum Mendahului Imam dalam Sholat Jamaah?

Foto: ilustrasi

RISALAH INSPIRA,- Sholat diperbolehkan dilakukan sediri, tanpa berjamaah. Namun, pahala sholat berjamaah lebih diutamakan. Sebab lebih banyak mendapatkan pahala seperti yang di jelaskan dalah hadits

صَلَاةُ الْجَمَاعَةِ تَفْضُلُ صَلَاةَ الْفَذِّ بِسَبْعٍ وَعِشْرِينَ دَرَجَةً

“Sholat berjamaah melampaui sholat sendirian dengan (mendapatkan) 27 derajat.” (HR. Bukhari)

Di antara sejumlah persyaratan mak’mum adalah mengikuti imam dan tidak

mendahuluinya.

Tapi bagaimana jika ada seorang mak’mum yang menyalahi ketentuan itu?

Seorang mak’mum haruslah mengikuti setiap gerakan shalat imam dan tidak mendahulinya. Salah satu filosofi terpenting mengikuti imam adalah kepatuhan terhadap pemimpin dan bagaimana agar menjadi mak’mum yang baik dan benar.

Sebab ketika seseorang mak’mum mendahului gerakan imam maka sholat berjamaah si mak’mum itu jadi rusak, tidak sah, dan tidak mendapatkan pahala berjamaah.

Dalam kitab at – Targib wa at – Tarhib dijelaskan, karya Imam Mundziri disebutkan, ancaman bagi orang – orang yang suka mendahului gerakan imam.

Hal ini sebagaiman dinukilkan dari hadits Nabi Muhammad SAW :

قَالَ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ  : اَمَايَخْشَى أَحَدُكُمْ اِذَارَفَعَ رَأْسَهُ قَبْلَ الْاِمَامِ أَنْ يَحَوِّلَ اللَّهُ رَأْسَهُ رَأْسَ حِمَارِ. وَفِى رِوَايَةٍ أَنْ يُحَوِّلَ اللَّهُ صُوْرَتَهُ صُوْرَةَ حِمَارٍوَفِى رِوَايَةٍ صُوْرَةَكَلْبٍ.

“Rasulullah SAW bersabda :”Apakah tidak takut salah seorang di antara kalian ketik mengangkat kepalanya sebelum imam. (Apa tidak takut yang mendahului gerakan imam itu akan) Allah mengubah kepalanya menjadi kepala Himar?”Dalam satu riwayat, orang yang mendahului imam apa tidak takut Allah mengubah wajahnya menjadi wajah himar, dalam riwayat lain menjadi wajah anjing.”

قَالَ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ  : اَلَّذِىْ يَخْفِضُ وَيَرْفَعُ قَبْلَ الْاِمَامِ اِنَّمَانَاصِيَتُهُ بِيَدِالشَّيْطَانِ

 “Orang-orang yang turun (rukuk) dan bangkit (itidal) sebelum imam, sesungguhnya ubun-ubunan mereka itu ada di tangan setan.” 

Berikut adalah petikan pernyataan Syekh Sa‘id ibn Muhammad yang dikemukakan dalam Syarhul Muqaddimah Al-Hadramiyyah:

فإن تقدم يقيناً عليه في غير شد خوف .. لم تصح؛ لخبر: “إنما جعل من الإمام ليؤتم به” و (الائتمام): الاتباع، أما لو شك فيه .. فلا يضر سواء جاء من خلفه، أم من أمامه. والعبرة في التقدم في القائم (بعقبه) أي التي اعتمد عليها من رجليه أو إحداهما، وهو مؤخر القدم مما يلي الأرض (أو بأليتيه إن صلى قاعداً) ولو راكباً (أو بجنبه إن صلى مضطجعاً) أو برأسه إن صلى مستلقياً

“Jika mak’mum yakni mendahului imam, di luar situasi ketakutan, maka tidak sah sholatnya,berdasarkan hadits. ‘Imam tidak di bentuk hanya untuk dimak’mumin. ‘sehingga mak’mum yang ragu apakah posisinya mendahului atau tidak, adalah tidak mengapa, baik dirinya dating dari belakang imam atau dari depan imam. Adapun yang menjadi acuan mendahului imam bagi mak’mum yang shalat berdiri adalah tumit. Maksudnya, tumit kedua kaki atau salah satu kaki yang dijadikan tumpuan. Tumit sendiri yakni bagian belakang telapak kaki yang menyentuh tanah. Atau, yang menjadi acuan adalah kedua pantat bagi mak’mum yang shalat sambil duduk, meskipun duduknya di atas atau di kursi, lambung bagi mak’mum yang shalat sambil tidur miring, kepala bagi mak’mum yang shalat sambil tidur terlentang.”

Penulis: Nurwati Syahbudin***(Magang)

Login

Welcome! Login in to your account

Remember me
Lost your password?

Lost Password