Al-Mustansiriya, Madrasah yang Mengajarkan Islam dan Sains Sejak 1227

SAINS INSPIRA,- Madrasah Al-Mustansiriya (sekolah Mustansiriya) merupakan salah satu universitas tertua di dunia yang didirikan pada 1227 (atau 1232/34 M menurut beberapa catatan) oleh Khalifah Abbasiyah Al-Mustansir.

Pada masa pemerintahan Kekhalifahan Abbasiyah di Timur Tengah, banyak berdiri akademi, sekolah tinggi dan sekolah biasa yang memenuhi Baghdad. Dua diantaranya yang terpenting adalah perguruan Nizhamiyya dan Mustansiriya.

Perguruan Nizhamiyyah, didirikan oleh Nizham Al-Mulk, wazir Sultan Seljuk, pada abad ke-5 H atau sekitar tahun 1065 M, dan perguruan Mustansiriyah, didirikan dua abad kemudian oleh Khalifah Al-Mustanshir Billah.

“Universitas itu telah bertahan selama berabad-abad, melalui beragam perang, banjir dan pemugaran kembali arsitektur,” ujar sejarawan Sarah Zuhair, dikutip dari Scoop EmpireSenin (11/10).

Sayangnya, uang yang dialokasikan untuk restorasi Mustansiriya telah hilang. Kontraktor gedung diduga meminta pembayaran lebih besar untuk banyak pekerja daripada anggaran untuk merostorasi proyek Mustansiriya. Mustansiriya harus terlibat dalam kisruhnya birokrasi politik Irak.

Baca juga: Arkeolog Israel Temukan Bukti Gempa yang Sudah Diramal Kitab Suci

Perpustakaan di Mustansiriya dipenuhi dengan buku-buku tentang setiap disiplin ilmu dan merupakan yang terlengkap dibanding dengan universitas pendahulunya. Bukunya lengkap, mulai dari kedokteran hingga matematika, serta yurisprudensi Islam atau Al-Ahkam Al-Islamiyya.

“Identitas sebagai sekolah Islam di Baghdad tentunya memiliki studi Islam khusus. Terdapat studi khusus tentang pengetahuan Islam. Pembagian itu meliputi Dar al-Qur’an dan Dar al-Hadits,” tulis Nabila A. Dawood dalam artikelnya berjudul Scholarly Traditions of the Schools in Baghdad: The Mustansiria as a Model.

Selain itu, di dalamnya ada Dar al-Quran (Rumah al-Quran), yang didedikasikan untuk mempelajari dan membaca kitab Qur’an. Ada seorang qari yang ditunjuk untuk mengajarkan kitab suci untuk membantu para siswa. Sementara Dar al-Hadits didedikasikan untuk mempelajari ucapan dan tradisi yang dilakukan oleh Nabi Muhammad.

“Selain para siswa, ada tiga puluh anak yatim piatu yang ditampung di kompleks Universitas tersebut. Semua siswa, termasuk anak yatim. Mereka diberi ilmu serta uang, roti, dan sup setiap belajar disana,” kata Nabila.

Kerumunan mahasiswa di kampus Al-Mustansiriya circa 1970-an.

Dalam dunia kedokteran, Al-Mustansiriya juga mendirikan Fakultas Kedokteran. Fakultas Kedokteran dipimpin oleh seorang dokter Muslim senior yang mempekerjakan sepuluh siswa untuknya.

Ada juga rumah sakit yang terletak di lingkungan Madrasah, memungkinkan mahasiswa kedokteran untuk belajar dan praktek kedokteran secara langsung, dengan bimbingan para dokter Muslim senior.

“Identitas keilmuan mulai terbentuk, dan metodologinya mulai ditentukan. Untuk setiap bidang studi, terdapat metodologi yang ditentukan dan kurikulum yang disusun berdasarkan topik fundamental yang dirumuskan.

Baca juga: Ditemukan, Catatan Rahasia Isaac Newton Mengenai Piramida dan Prediksi Kiamat

“Para administrator pendidikannya, merumuskan dasar metodologis untuk penelitian ilmiah, orang-orang merevisi buku-buku tentang riwayat Nabi, dan menyusun karya-karya komprehensif,” tulis Nabila A. Dawood.

Madrasah Mustansiriya masih memainkan peran penting di Baghdad karena Madrasah tersebut sekarang menjadi bagian dari Universitas Al-Mustansiriya yang dikenal hari ini.

Ia merupakan monumen terpenting dalam sejarah ilmu pengetahuan dalam membangun peradaban di Baghdad atau irak. (SON)

Welcome! Login in to your account

Remember meLost your password?

Lost Password