Tekad ‘Aing Bisa Ngaji’ Mengundang Hidayah Melalui Bilik Jeruji

Foto: dok. beritainspira

‘AING BISA NGAJI’
MENGUNDANG HIDAYAH
MELALUI BALIK JERUJI

BANDUNG INSPIRA,- Hidayah akan datang kapan saja dan kepada siapa saja yang Allah SWT kehendaki. Tak pandang bulu, hidayah akan masuk sekalipun banyak kesalahan yang telah diperbuat. Salah satu contoh hidayah datang melalui sebuah program bagi para narapidana.

Program pembinaan kepribadian bagi narapidana penghuni Lembaga Pemasyarakatan Kelas II A Bandung (Lapas Banceuy) bertajuk ‘Aing Bisa Ngaji’ bagi mereka yang beragama Islam, telah membuka pintu cahaya Illahi untuk warga binaan pemasyarakatan.

Pendidikan agama melalui belajar membaca dan menghapal Al-Quran di mesjid lingkungan Lapas Banceuy menjadi kegiatan mereka untuk menemukan kembali jalajn yang lurus.

Kepala Lapas Banceuy, Tri Saptono Sambudji, menjelaskan arti dari ‘Aing Bisa Ngaji’. Program ini merupakan salah satu program pembinaan karakter narapidana beragama Islam untuk mengenal Iqro dan Al-Quran.

Program ini lahir setelah Lapas Banceuy mengetahui masih banyak sebagain besar warga binaan buta hurup Al-Quran. Karena menurut mereka buta huruf Al-Quran masih bisa diselamatkan selama ada niat dalam hati mereka, untuk belajar lebih baik lagi.

“Awalnya kami lakukan pemetaan dan pendataan diketahui jika masih banyak warga binaan yang tidak bisa Al-Quran, digagaslah program pembinaan diberi nama Aing Bisa Ngaji,” ungkap Tri Saptono kepada beritainspira.com.

Jumlah total warga binaan Lapas Banceuy hingga kini mencapai 941 orang. 80 persen diantaranya merupakan terpidana kasus narkotika dengan vonis hukuman empat sampai dua puluh tahun penjara.


Baca juga: Kisah Preman Hijrah Buka Warung Makan Gratis di Pulau Buru

Selama dalam masa tahanan, Lapas Banceuy melakukan pembinaan kepribadian dan kemandirian kepada para narapidana, agar mereka memiliki perilaku baik selama menjalani hukuman dan cakap saat bebas.

“Jadi ada pembinaan berkaitan dengan kepribadian seperti rehabilitasi, konseling psikologi dan lebih dominan pada pembinaan agama melalui ‘Aing Bisa Ngaji’, sementara pembinaan kemandirian kita berikan pelatihan keterampilan,” terang Kalapas Banceuy.

Menurut Tri, pembinaan melalui kegiatan keagamaan memiliki peran penting dalam menggugah kesadaran narapidana agar tidak kembali terjebak dalam lubang hitam.

Dari program ‘Aing Bisa Ngaji’ narapidana bukan hanya sekedar mengenal, membaca dan menghafal ayat yang terdapat dalam Al-Quran, lebih dari itu merubah konsep kepribadian dan serta memperbaiki ahlaq mereka.

Peran pembinaan agama ini sangat penting sekali, menyentuh kesadaran warga binaan untuk tidak kembali melakukan tindak pidana. Saya selalu sampaikan, lebih baik untung kecil tetapi hidup tenang bersama keluarga ketimbang untung besar tetapi kembali lagi melakukan kejahatan dan dipenjara.”
—Tri Saptono

Kepala Seksi Bimbingan Lapas Banceuy, Dede Mulyadi, menambahkan program ‘Aing Bisa Ngaji’ narapidana diajak untuk belajar mengenal Al-Quran secara berjenjang, bahkan sejak dari Iqra. Tak hanya itu, tingkatan selanjutnya juga santri narapidana akan terus digembleng hingga ke tingkta Tahfidz, dan memahami seluruh isi kandungan dalam Al-Quran.

Lapas Banceuy tidak ingin waktu para narapidana terbuang secara Cuma-Cuma. Waktu yang mereka miliki dikatakn sangat cukup untuk belajar dan memperdalam ilmu agama.

Hebatnya lagi, para pengajar yang mengajar mereka untuk mengaji berasal dari narapidana itu sendiri dengan dibantu oleh para petugas Lapas Banceuy.

“Kegiatan mengenal, membaca dan menghapal Al-Quran dilakukan setiap hari di mesjid Lapas, kecuali hari libur. Jadi warga binaan yang sudah Al-Quran diajak mengajar yang Iqro, begitu dilakukan berjenjang. Dari narapidana untuk narapidana,” katanya.

Melalui program ini, Lapas Banceuy ingin menggugah kesadaran warga binaan untuk memanfaatkan masa tahanan ini dengan memperbaiki dan membentuk diri menjadi lebih baik.


Baca juga: Perjalanan Gadis Mualaf Asal Suku Buru, Syahadat Sejak SD Hingga Konsisten Bercadar

Di samping itu, melalui pendidikan agama Lapas Banceuy meyakini narapidana akan secara sadar menghentikan kegiatan negatif saat kembali ke masyarakat.

“Wawasan agama akan menjadi benteng kokoh diri untuk tidak lagi melakukan tindak pidana saat kembali ke masyarakat, di samping itu kami mengajak warga binaan senantiasa menjaga kondusifitas didalam Lapas Banceuy,” katanya.

Manfaat program ‘Aing Bisa Ngaji’ dirasakan Dadang Krismat (47) terpidana hukuman 8 tahun penjara akibat kepemilikan puluhan pil Ekstasi ini kini mengamalkan kemampuan Al-Qurannya pada narapidana lain.

Padahal, sebelum masuk penjara ia sama sekali tidak bisa membaca Al-Quran, kesibukan sebagai Disk Jockey dalam hingar bingar dunia malam di Kota Bandung telah melupakan kewajiban ibadahnya.

“Terus terang saja sebelum masuk sini (Lapas Banceuy-red) saya tidak bisa membaca Iqro, setelah menjadi santri Alhamdulillah saya kini ditugaskan mengajar Iqro narapidana lain,” kata dia. (JUN/MSN)

0 Comments

    Leave a Comment

    Welcome! Login in to your account

    Remember meLost your password?

    Lost Password