Efek Pandemi Covid-19, Angka Kemiskinan Jabar Alami Kenaikan

Ilustrasi: Gisreports

BANDUNG INSPIRA,- Pandemi COVID-19 menghantam perekonomian Indonesia saat ini. Tingkat kemiskinan di daerah melonjak, salah satunya di Jawa Barat. Gubernur Jawa Barat, Ridwan Kamil mengungkapkan telah terjadi penambahan angka kemiskinan di 19 daerah akibat pandemi COVID-19.

Hal tersebut diungkapkan Ridwan Kamil seusai Rapat Koordinasi Penanganan COVID-19 dan Pemulihan Ekonomi Daerah. Hasil kajian pemerintah menunjukkan pandemi yang terjadi sejak awal 2020 memberi dampak kemiskinan. Fakta ini juga didukung oleh hasil survei Badan Pusat Statistik (BPS) Jabar dalam rentang bulan Oktober 2019 – Maret 2020.

“Saya laporkan dari sisi ekonomi ini penting jumlah orang miskin makin meningkat oleh pandemi,” ungkap Kang Emil, Senin (25/01/2021).

Persentase angka kemiskinan warga Jabar mengalami peningkatan. Naiknya angka kemiskinan salah satunya karena dampak dari Covid-19. Hal ini terindikasi dari hasil survei Badan Pusat Statistik (BPS) Jabar dalam rentang bulan Oktober 2019 – Maret 2020

Kepala Bidang Statistik (BPS) Jabar Raden Gandari menyebutkan pandemi Covid menjadi salah satu penyebab naiknya angka kemiskinan, meski ada beberapa variabel lainnya yang juga tidak kalah berpengaruh.

BPS Jabar menyebutkan pada Maret 2020, jumlah penduduk miskin (penduduk dengan pengeluaran per kapita per bulan di bawah garis kemiskinan) di Jawa Barat mengalami kenaikan yaitu sekitar 544,3 ribu jiwa, dari 3,38 juta jiwa (6,82 persen) pada September 2019 menjadi 3,92 juta jiwa (7,88 persen) pada Maret 2020.

Selain itu, Garis Kemiskinan (GK) Jawa Barat mengalami peningkatan sebesar 2,82 persen dari Rp. 399.732,- per kapita per bulan pada September 2019 menjadi Rp. 410.988,- per kapita per bulan.

Kemiskinan-jabar-potrait
Infografis: Ardiansyah/beritainspira.com

Peran komoditi makanan terhadap garis kemiskinan masih jauh lebih besar dibandingkan peran komoditi bukan makanan.

Secara total peran komoditi makanan GK sebesar 73,43 persen. Angka ini naik jika dibanding keadaan September 2020 yang sebesar 73.23 persen.

Sementara Indeks Kedalaman Kemiskinan (P1) menunjukkan kecenderungan meningkat sedangkan Indeks Keparahan Kemiskinan (P2) menurun. Indeks Kedalaman Kemiskinan (P1) naik dari 1,056 menjadi 1,127 atau naik sebesar 0,072 poin.

Nilai Gini Ratio mengalami peningkatan yakni dari 0,398 menjadi 0,403. Jika dilihat berdasarkan wilayah, nilai Gini Ratio di perkotaan maupun perdesaan menunjukkan kecenderungan meningkat. Gini Ratio di perkotaan naik menjadi 0,412 dari 0,408 pada periode sebelumnya, begitu pula di perdesaan yang mengalami kenaikan dari 0,318 menjadi 0,325. (SON)

0 Comments

    Leave a Comment

    Welcome! Login in to your account

    Remember meLost your password?

    Lost Password